BEBERAPA tahun terakhir ini peta percakapan mengenai
hal-ihwal kritik, kritikus, dan
sastra sedang digambar di atas kertas
kusam
dengan garis-garis keras dan tajam, bersilangan.Semakin menyedihkan begitu Richard Oh, seorang
pengarang, menggambarkan
bahwa sosok pengarang
adalah mesin hasrat
berkesenian yang menuntut untuk dipuaskan, semata-mata dipuaskan,
dengan "cara yang serampangan dan tanpa mengikuti suatu metode". Alih-alih anggapan ini diidentifikasi dengan
meyakinkan, kaum pengarang yang menyedihkan ini dipaksa masuk ke
dalam medan peperangan, menghadapi kaum musuh yang seluruh wajahnya seperti
Nirwan Dewanto, sang kritikus yang "sedang berusaha meyakinkan kolega,
dengan menulis temuannya dalam bentuk makalah dengan bahasa formal
sarat jargon akademis". Alibi-alibi itu adalah para pengarang yang
tidak serampangan (yang secara aneh beberapa
dari mereka juga dikutip Oh),
dan bekerja dengan metode.
Sebuah seri wawancara yang saya kumpulkan dari
beberapa mahasiswa dengan latar belakang sekolah dasar dan menengah
kita menyebutkan bahwa persoalan terbesar dari pengetahuan humaniora
pada pendidikan tinggi adalah tingkat ketercabangan versi-versi
kebenaran yang begitu luas. Ini berbeda dengan yang biasa mereka (dan saya) telan sepanjang pola pendidikan dasar yang cenderung satu arah.Melalui akademi dan institusi pengetahuan, formal
maupun informal, kritikus-kritikus itu dididik dalam modus cara baca
tertentu, yang kemudian cara baca ini akan mereka gunakan seterusnya
dalam fungsi-fungsi publik yang akan mereka, suka atau tidak suka,
jalani. Kritikus-kritikus itu tak ubahnya agen
multilevel marketing yang sedang menyebarkan paham yang tidak
sepenuhnya dikenali dan dibutuhkan pembacanya.
Seperti saya singgung di muka, kecurigaan yang
dilekatkan pada dunia akademik di awal fase kritik terhadap modernisme
telah mendorong dialektika internal institusi pengetahuan untuk
terus-menerus menyempurnakan modus-modus yang sudah ada atau menemukan
modus-modus baru dalam mendekati kenyataan atau bacaan atas kenyataan.
Sesudah New Criticism dan -dalam satuan ruang waktu yang berbeda-rekan
sejamaknya, formalisme Rusia, berturut-turut kita dapat menemukan (di
berbagai buku pengantar teori literatur kontemporer): teori-teori
dengan orientasi pada pembaca yang dipengaruhi oleh fenomenologi,
teori-teori dengan pengaruh Marx (dari awal realisme sosial sampai
perkembangan terkini pada teoritisi semacam Eagleton dan Jameson),
teori-teori strukturalis dari Saussure sampai Jonathan Culler, dan
kelanjutannya, pada teori-teori pasca-strukturalis dengan sederet
nama-nama yang terang memusingkan (dari Barthes sampai Foucault, dari
Derrida sampai Deleuze dan Guattari). Pada lingkup yang lebih kecil, yang kerap disebut
sastra Indonesia, praktik pengetahuan tidak bekerja dengan skema
struktur yang terencana. Sistem pendidikan tidak sedang bekerja pada banyak hal, termasuk sastra.
Kalaupun kita menemukan nama-nama penting dalam sejarah kritik sastra
di Indonesia yang berasal dari kalangan akademik formal, itu adalah
nama-nama anomali yang bekerja sepenuhnya karena
kepentingan-kepentingan personal dan atau praktik-praktik integrasi
sikap intelektual.
Jika saat ini kita bisa menyebut beberapa nama jurnal dan majalah
sastra dengan daya tahan dan reputasi yang cukup, maka kita sedang
menunjuk sebuah operasi pinggiran, marginalia, dari suatu arus desain
besar yang sudah lama tidak membangun apa-apa.
Selain kenyataan bahwa tidak ada prosedur yang baku sehingga sebuah
karya pantas untuk dikritik, risiko terbesar dari soal ini adalah bahwa
sebuah karya yang diumumkan kepada publik sering dikategorikan,
didefinisikan, ditafsir dengan skema pengetahuan yang bisa jadi memang
sejak awal ditolak oleh karya tersebut.
Bukan berarti bahwa diskursus ini kemudian menjadi keliru, tapi bahwa
sebagai sebuah formasi, apa yang dikritik dan siapa yang dikritik
adalah posisi yang sesungguhnya dengan mudah dapat segera salingbertukar. Bahwa yang semula disebut kritik itu sesungguhnya adalah teks yang sedang dikritik oleh karya.Pertumbuhan dan kemajuan estetika dan wacana adalah kemungkinan yang bisa dicapai dari dalam ketaatan itu.
Dalam posisi ini, terlihat jelas bahwa ia memiliki peran yang penting
untuk menjadi salah satu agen yang melakukan penilaian atas karya, dan
mendorong agar suatu karya menjadi diskursus yang terbuka.
Satu hal yang harus selalu diingat adalah bahwa sastra, sebagaimana
cabang kenyataan yang lain, bercecabang dan tidak monolitik.Jika kritik Oh ini dimaksudkan membangun peta ekonomi
politik sastra yang lebih sehat, yang tidak bergantung pada
reputasi-reputasi agen yang kooptatif, maka mungkin yang diperlukan
adalah membaca bagaimana kutub-kutub dalam struktur yang sepintas acak
ini membangun mekanisme pasarnya. Dibutuhkan
identifikasi khusus untuk melacak apakah yang terjadi di pasar sastra,
agen-agen mana yang sedang bermain dan memegang kartu paling penting di
dalamnya.Bisa jadi, perlu kita mempertimbangkan bahwa
manipulasi citra adalah faktor terpenting dalam pasar modern kita
sehingga karya yang benar-benar baik sesungguhnya tidak diperlukan jika
industri sekadar membutuhkan karya yang seolah-olah baik
Ringkasan lain tentang Tentang Mitos Sang Kritikus