• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Budi Darma: Saya Tetap Seorang Guru

.

Budi Darma: Saya Tetap Seorang Guru

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : Brigitta Isworo
SIAPA saja yang bertemu dengan Budi Darma (67 tahun) akan menangkap kesan yang sama.
Sastrawan terkemuka sekaligus
guru besar Universitas Negeri Surabaya
dan mantan Rektor IKIP Surabaya ini adalah sosok santun, bersahaja, dan
rendah hati.Ketika tahun 2002 mengajar di National Institute of
Education, Nanyang Technological University, Singapura, di Jurusan
Bahasa dan Kebudayaan Asia, ia minta khusus kepada mereka.
Tuturnya, "Saya minta dipanggil dengan sebutan ’Cik Gu’ pada mahasiswa saya di Nanyang." "Cik Gu" singkatan dari sebutan bahasa Melayu "Encik Guru" yang artinya "Tuan Guru" atau "Bapak Guru".
DI samping menjadi guru seperti yang dicita-citakannya
sejak kecil, menjadi pengarang adalah panggilan yang memantul dari
perenungan-perenungannya.
"Mengapa air sungai mengalir ke laut, dan mengapa laut tidak banjir? Apakah ada orang-orang yang nasibnya selalu berada di bawah meskipun dia selalu mencoba bangkit? Seperti bajing dalam sangkar bundar yang selalu berlari ke atas, namun kemudian selalu terbawa turun lagi?"Hatinya terusik oleh pertemuannya dengan sejumlah
"perempuan berkumis yang berwajah sayu" di Singapura (Obsesi Perempuan
Berkumis, Budi Darma, 2002).
Budi Darma yang terlibat langsung di dalam pergaulan global
berpendapat, seorang pengarang akan tetap memilih bertutur dengan
bahasa ibu-nya.
Budi Darma, yang bulan Maret 2004 lalu menjadi salah
satu juri dalam Sayembara Menulis Novel dan Naskah Drama yang
diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, mengungkapkan keprihatinannya,
" Sastra nasional Indonesia itu sebenarnya yang mana?
Karena ternyata selama ini setelah angkatan tahun 1920-an Balai
Poestaka, pada perkembangan sastra Indonesia modern ternyata tidak ada
pengarang yang benar-benar memberikan perhatian kepada kebudayaan
(Indonesia) hingga ke tingkat lokal, yang kecil."
Sayembara itu pun menurutnya belum mampu merepresentasikan sastra
nasional Indonesia. "Perkembangan sastra tidak merata di seluruh
Indonesia. Paling-paling hanya ada di kota-kota besar di Jawa, lalu Sumatera, dan Bali," tambahnya.
Kalaupun ada pengarang etnis non-Jawa, mereka hidup di Jakarta. "Tidak ada yang bisa menggambarkan benar-benar kondisi masyarakat pedalaman, sampai ke ujung timur.
Diterbitkan di: Oktober 19, 2007

Komentar

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.