Di antara teman-temannya, Melanita Pranaya Budianta (51) dikenal sebagai pribadi sederhana, rendah hati, dan selalu mau bertanya. ”Banyak hal yang
tidak saya ketahui di luar pengetahuan yang saya pelajari. Banyak kenyataan di lapangan yang sama sekali berbeda dari teori,” ujar Melani, yang ditemui Kamis (2/2) di kantornya.
Saat hendak mengurus kartu keluarga, petugas kelurahan di Jakarta Selatan menanyakan kenapa suaminya, sastrawan Eka Budianta, tidak melengkapi surat-suratnya
dengan surat ganti nama, K-1 dan seterusnya, yang berlaku bagi warga keturunan. Melani mengatakan, semua
itu tidak dibutuhkan
karena suaminya tak pernah ganti nama. Ketika petugas itu tidak percaya bukan hanya karena wajah dan penampilan suaminya, tetapi karena di KTP-nya pada tahun 1980-an itu ada tanda kosong di antara angka-angka nomor KTP, Melani ”berjuang” mencari jejak spasi kosong itu.
sih Barat? Ilmuwan Edward Said sudah lama mengingatkan bahwa Barat dan Timur hanya imajinasi. Tetapi,
kita terus terjebak pada oposisi biner sehingga yang terus-menerus ditemukan adalah yang menjajah dan yang terjajah. Kita terus mengkritik patriarkhi, tetapi yang terus-menerus kita temukan adalah cara-cara yang patriarkhis.
Seperti Jakoeb Soemardjo, kritikus dengan latar belakang budaya Jawa yang menetap di Bandung dan meneliti kesusastraan dan kesenian Sunda. Atau cerita klasik anak-anak Si Doel Anak Djakarta karya Datoek Madjoindo (1934) yang mampu mengaitkan diri dengan budaya yang lain dengan ringan, tanpa beban.
Multikulturalisme yang digagas teman-teman dari cultural studies adalah yang melintasi
batas, bukan primordialisme. Kerja budaya dan ilmu humaniora menguakkan batas-batas keilmuan yang memagari perspektif kita sehingga kita dapat mengembangkan pendekatan lintas disiplin yang terus saling memperkaya.
Ringkasan lain tentang Melani Budianta Mendobrak Batas-batas