Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Globalitas dan Lokalitas dalam "Membayangkan Indonesia"

.

Globalitas dan Lokalitas dalam "Membayangkan Indonesia"

Pengarang : Saut Situmorang
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 89  kata: 900   Diterbitkan di: Oktober 19, 2007
ADALAH studi terkenal Indonesianis asal Universitas
Cornell, Amerika Serikat, Ben(edict) Anderson tentang nasionalisme yang
membuat kita sadar bahwa konsep nasionalisme bukanlah lahir begitu saja
dari langit biru di atas kepala, tetapi merupakan sebuah realitas yang
diciptakan oleh imajinasi di dalam kepala-sesuatu yang dibayangkan,
sebuah konstruksi kultural.Anderson menyatakan bahwa bangsa dibayangkan sebagai
sebuah komunitas karena "tidak persoalan kemungkinan adanya
ketidaksetaraan dan eksploitasi yang aktual di dalamnya, bangsa selalu
dipercayai merupakan sebuah persaudaraan yang mendalam dan horizontal". Dalam esei berjudul "Menuju Masyarakat dan Kebudayaan
Baru" yang akhirnya menimbulkan apa yang oleh Achdiat K Mihardja
disebut sebagai Polemik Kebudayaan (yang melibatkan tokoh penting saat
itu: Sanusi Pane, Dr Poerbatjaraka, Dr Sutomo, Tjindarbumi, Adinegoro,
Dr M Amir, dan Ki Hajar Dewantara), STA memajukan tesis bahwa sejarah
sesuatu yang bernama "Indonesia" itu harus dibedakan atas dua zaman:
zaman "Indonesia" kontemporer abad XX-yang dikarakterisasikannya
sebagai "ketika lahir suatu generasi yang baru di lingkungan Nusantara
ini, yang dengan insaf hendak menempuh suatu jalan yang baru bagi
bangsa dan negerinya"-dan zaman sebelum itu, zaman hingga penutup abad
XIX, "zaman prae-Indonesia, zaman jahiliah keindonesiaan, yang hanya
mengenal sejarah Oost Indische Compagnie, sejarah Mataram, sejarah
Aceh, sejarah Banjarmasin, dan lain-lain".

Sebabnya, hanya suatu masyarakat yang dynamisch yang dapat berlomba-lomba di lautan dunia yang luas.
Maka, telah sepatutnya pula alat untuk menimbulkan masyarakat yang
dynamisch yang teristimewa sekali kita cahari di negeri yang dynamisch
pula susunan masyarakatnya. Bangsa kita perlu
alat-alat yang menjadikan negeri-negeri yang berkuasa di dunia yang
dewasa ini mencapai kebudayaannya yang tinggi seperti sekarang: Eropa,
Amerika, Jepang.Ia bersifat Arjuna yangbertapa diIndrakila.">kern
200m<>h8333m,0<>w 8333m<
Walaupun Sanusi Pane beranggapan bahwa sesuatu yang ideal adalah
"menyatukan Faust dengan Arjuna, memesrakan materialisme,
intelektualisme, dan individualisme dengan spiritualisme, perasaan dan
kolektivisme", kita masih bisa merasakan justru sifat idealisme- utopis
yang mustahil untuk diwujudkan dari konsep penyatuan Faust/Arjuna
itulah yang membuat dia akhirnya masih percaya bahwa "Timur, lebih
baik" karena "materialisme, intelektualisme dan individualisme"-yang
merupakan dasar berkembangnya budaya Barat tapi yang juga menimbulkan
ketidakadilan ("ada orang yang kebanyakan dan ada yang
kelaparan")-boleh dikatakan tidak diperlukan.Kritik STA yang diberi judul "Semboyan yang Tegas" itu
ditujukan kepada kecenderungan sikap "anti-intelektualisme,
anti-individualisme, anti-egoisme, anti- materialisme"-atau anti-Barat
secara umum karena isme-isme inilah yang dianggap sebagai dasar budaya
Barat oleh kalangan elite intelektual kita saat itu, seperti juga
sekarang-pada pidato sejumlah besar pembicara dalam kongres tersebut.Kalau kita analyseeren masyarakat kita dan
sebab-sebabnya kalah bangsa kita dengan perlombaan bangsa-bangsa di
dunia, maka nyatalah kepada kita bahwa menjadi statischnya, menjadi
matinya, tiada berjiwanya masyarakat bangsa kita ialah karena
berabad-abad itu kurang memakai otaknya, kurang egoisme (yang saya
maksud bahagiannya yangsehat), kurangmaterialisme.">kern
200m<>h8333m,0<>w 8333m<
Sambil sekaligus membantah Sanusi Pane, STA percaya bahwa "sesungguhnya
soal bangsa kita yang sebenar-benarnya soal kekurangan intellect, soal
kurang hidupnya individu, soal terlampau pemurahnya (kurang egoismenya)
tiap-tiap orang, soal kurang giatnya orang mengumpulkan harta dunia".
STA mengunci kritiknya itu dengan serangan balik yang telak dalam
bentuk isu baru yang sekali lagi dialah yang pertama melontarkannya
untuk diperdebatkan di kalangan intelektual kita: "Dan sesungguhnya
masyarakat bangsa kita telah mulai dynamisch dalam dua tiga puluh tahun
yang akhir ini.Dalam eseinya yang pertama, "Menuju Masyarakat dan
Kebudayaan Baru", yang jadi pemicu terjadinya perdebatan intelektual
penting pertama dalam sejarah pemikiran modern Indonesia itu, STA
sebenarnya sudah menyinggung soal-soal yang saat ini dikenal sebagai
isu-isu penting masyarakat pascakolonial, seperti mimikri dan
hibriditas identitas, tapi satu hal pokok yang justru jadi sebab dari
kondisi pascakolonial tersebut anehnya luput dari pembicaraannya, yaitu
realitas kolonialisme yang sedang dialami "Indonesia" yang sedang
dibayangkan itu.Alasan memilih hanya kelompok "para priayi" karena
mereka ini memang yang paling banyak berkepentingan, sebagai kelas
sosial yang berkuasa (sebelum dan bahkan sesudah terjadinya
kolonialisme), untuk/atas terciptanya sebuah "kolaborasi
penjajah-terjajah" lewat pendidikan dan pekerjaan. Kolaborasi
inilah yang akhirnya melahirkan "kaum elite koloni". Mereka ini jugalah
yang kelak di kemudian hari bermetamorfosis menjadi the founding
fathers, seperti presiden atau perdana menteri pertama negeri-negeri
koloni yang berhasil memperoleh "kemerdekaan"nya. Karena asalnya memang
metamorfosis "kolaborasi penjajah-terjajah", para the founding fathers
negeri-negeri bekas koloni adalah subyek hibrid pascakolonial, fisiknya
Bumiputra tapi "selera"nya Eropa Barat atau Amerika Serikat.

Ringkasan lain tentang Globalitas dan Lokalitas dalam "Membayangkan Indonesia"
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------