Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sebuah Perang untuk Keterpukauan

Sebuah Perang untuk Keterpukauan

oleh: NasrulAzwar     Pengarang : Karlina Leksono-Supelli
ª
 
HUMAN Condition, ''opus magnum'' Hannah Arendt (1958), dibuka dengan menggetarkan: "Pada tahun 1957, sebuah obyek kelahiran bumi, buatan manusia, diluncurkan ke alam semesta, tempat ia selama beberapa waktu mengitari bumi menurut hukum-hukum gravitasi yang mengayunkan dan mengedarkan juga benda-benda langit-matahari, bulan, dan bintang-bintang."Sekalipun saya tidak setuju cara Sokal, saya setuju bahwa orang, khususnya pemikir dan para ahli, hanya bisa mengimpor gagasan dari pemikir atau bidang ilmu lain dengan sungguh-sungguh bertanggung jawab; tetapi saya ingin dengan sederhana mengembalikan perdebatan ilmu ini ke persoalan yang sesungguhnya ditolak, yaitu kecenderungan yang menekankan subyektivitas.Sekarang ini kita melihat ketegangan model Galileo ini sudah lampau, sekalipun muncul juga dalam bentuk yang bisa berbahaya untuk orang awam, tetapi tidak terlalu berpengaruh di dalam gerak internal ilmu. Islamisasi ilmu seperti dicontohkan Saudara Nirwan, Lysenkoisme, Creationisme, dan lain-lain itu tidak bertahan lama justru karena kemampuan metode ilmu menolak segala sesuatu yang mencoba mengkhianati kaidah-kaidah internalnya. Terlebih lagi untuk ahli ilmu-ilmu sosial, politik, dan budaya yang dalam kehidupan sehari-hari terus-menerus dihadapkan ke kemungkinan-kemungkinan yang dibawa oleh ilmu pengetahuan alam dengan semua aspeknya. Kalau kita kembali ke saat-saat para ahli fisika kenamaan seperti Feynman, Oppenheimer, Szilard, dan lain-lain itu, bekerja diam-diam meledakkan bom atom pertama dalam eksperimen di sebuah gurun di New Mexico, Juli tahun 1945, mereka tentu tidak membayangkan bahwa hanya dalam waktu teramat singkat, maha karya mereka yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada bulan Agustus 1945 membinasakan dengan seketika 170.000 jiwa, serta membiarkan puluhan ribu lainnya mati perlahan-lahan. Dalam kancah perang dunia yang sama, Nazi secara rapi dan teradministrasi membunuh lebih dari enam juta orang Yahudi dengan fumigasi. Sementara ilmuwan terus mengumandangkan norma universal Bacon tentang ilmu untuk "menanggulangi kesengsaraan dan memenuhi kebutuhan manusia" (yang sebagian besar memang terbukti benar) serta diktum pembebasan dari belenggu takhyul atau penindasan. Padahal penduduk Bumi yang paling tidak paham proses ilmu justru yang paling merasakan penindasan oleh sistem pengalihragaman hasil kegiatan ilmu ke kehidupan sehari-hari. Maka, pertanyaan menyangkut obyektivitas ilmu, otoritas yang diperoleh dari rasionalitas instrumentalnya, serta sifat positivistik yang menafikkan pengalaman maknawi manusia, kian gencar diajukan. Pengetahuan jelas-jelas memperlihatkan kekuasaannya, dan para ahli ilmu pengetahuan memperoleh keistimewaan untuk mengendalikan dan mengubah dunia melalui penerapan gagasan mereka di wilayah sosial dan politik.Ia mencoba meletakkan landasan filosofis yang kokoh untuk ilmu pengetahuan budaya dengan mengacu ke kategori kehidupan berupa nilai, kehendak, dan makna. Jika obyektivitas ilmu pengetahuan alam diperoleh dengan menanggalkan seluruh spektrum pengalaman prakeilmuan dan menampilkan obyek menurut kategori bilangan, ruang, waktu, massa, ilmu pengetahuan budaya menjadikan pengalaman sehari-hari prakeilmuan sebagai bahan kajiannya dengan menerapkan penghayatan, ekspresi, dan pemahaman. aya melihat bahwa orang belajar hal penting dari perkembangan ilmu pengetahuan, yaitu pertimbangan bahwa kalau kita tidak bisa mengetahui kebenaran sebagai sesuatu yang bisa disingkapkan lewat ilmu, sedikitnya kita tahu apa yang kita bisa lakukan. Pelajaran penting inilah yang mendorong pengembangan teknologi, tetapi seperti dikatakan Hannah Arendt mengalihkan vita contemplativa ke vita activa, dari apakah sesuatu itu ke bagaimanakah sesuatu bekerja, dan menempatkan homo faber di tempat tertinggi kebudayaan dengan menekankan nilai instrumental. Tanpa secara eksplisit dapat dihubungkan dengan tindakan manusia di dalam kehidupan bersama, berkembang menjadi kekuatan teknis yang merembes masuk ke hampir semua lapis kehidupan.
Diterbitkan di: 19 Oktober, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
  1. 1. nnatea

    balas

    hmmmm menarik artikelnya...:) www.seemeagain.com

    0 Nilai 31 Mei 2011
X

5 Teratas

.