HUMAN Condition, ''opus magnum'' Hannah Arendt (1958),
dibuka dengan menggetarkan: "Pada tahun 1957, sebuah obyek kelahiran
bumi, buatan manusia, diluncurkan ke alam semesta, tempat ia selama
beberapa waktu mengitari bumi menurut hukum-hukum gravitasi yang
mengayunkan dan mengedarkan juga benda-benda langit-matahari, bulan,
dan bintang-bintang."Sekalipun saya tidak setuju cara Sokal, saya setuju
bahwa orang, khususnya pemikir dan para ahli, hanya bisa mengimpor
gagasan dari pemikir atau bidang ilmu lain dengan sungguh-sungguh
bertanggung jawab; tetapi saya ingin dengan
sederhana mengembalikan perdebatan ilmu ini ke persoalan yang
sesungguhnya ditolak, yaitu kecenderungan yang menekankan subyektivitas.Sekarang ini kita melihat ketegangan model Galileo ini
sudah lampau, sekalipun muncul juga dalam bentuk yang bisa berbahaya
untuk orang awam, tetapi tidak terlalu berpengaruh di dalam gerak
internal ilmu. Islamisasi ilmu seperti
dicontohkan Saudara Nirwan, Lysenkoisme, Creationisme, dan lain-lain
itu tidak bertahan lama justru karena kemampuan metode ilmu menolak
segala sesuatu yang mencoba mengkhianati kaidah-kaidah internalnya.
Terlebih lagi untuk ahli ilmu-ilmu sosial, politik,
dan budaya yang dalam kehidupan sehari-hari terus-menerus dihadapkan ke
kemungkinan-kemungkinan yang dibawa oleh ilmu pengetahuan alam dengan
semua aspeknya. Kalau kita kembali ke saat-saat
para ahli fisika kenamaan seperti Feynman, Oppenheimer, Szilard, dan
lain-lain itu, bekerja diam-diam meledakkan bom atom pertama dalam
eksperimen di sebuah gurun di New Mexico, Juli tahun 1945, mereka tentu
tidak membayangkan bahwa hanya dalam waktu teramat singkat, maha karya
mereka yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada bulan Agustus
1945 membinasakan dengan seketika 170.000 jiwa, serta membiarkan
puluhan ribu lainnya mati perlahan-lahan.
Dalam kancah perang dunia yang sama, Nazi secara rapi dan
teradministrasi membunuh lebih dari enam juta orang Yahudi dengan
fumigasi.
Sementara ilmuwan terus mengumandangkan norma
universal Bacon tentang ilmu untuk "menanggulangi kesengsaraan dan
memenuhi kebutuhan manusia" (yang sebagian besar memang terbukti benar)
serta diktum pembebasan dari belenggu takhyul atau penindasan.
Padahal penduduk Bumi yang paling tidak paham proses ilmu justru yang
paling merasakan penindasan oleh sistem pengalihragaman hasil kegiatan
ilmu ke kehidupan sehari-hari. Maka, pertanyaan
menyangkut obyektivitas ilmu, otoritas yang diperoleh dari rasionalitas
instrumentalnya, serta sifat positivistik yang menafikkan pengalaman
maknawi manusia, kian gencar diajukan.
Pengetahuan jelas-jelas memperlihatkan kekuasaannya, dan para ahli ilmu
pengetahuan memperoleh keistimewaan untuk mengendalikan dan mengubah
dunia melalui penerapan gagasan mereka di wilayah sosial dan politik.Ia mencoba meletakkan landasan filosofis yang kokoh
untuk ilmu pengetahuan budaya dengan mengacu ke kategori kehidupan
berupa nilai, kehendak, dan makna. Jika
obyektivitas ilmu pengetahuan alam diperoleh dengan menanggalkan
seluruh spektrum pengalaman prakeilmuan dan menampilkan obyek menurut
kategori bilangan, ruang, waktu, massa, ilmu pengetahuan budaya
menjadikan pengalaman sehari-hari prakeilmuan sebagai bahan kajiannya
dengan menerapkan penghayatan, ekspresi, dan pemahaman. aya melihat bahwa orang belajar hal penting dari
perkembangan ilmu pengetahuan, yaitu pertimbangan bahwa kalau kita
tidak bisa mengetahui kebenaran sebagai sesuatu yang bisa disingkapkan
lewat ilmu, sedikitnya kita tahu apa yang kita bisa lakukan.
Pelajaran penting inilah yang mendorong pengembangan teknologi, tetapi
seperti dikatakan Hannah Arendt mengalihkan vita contemplativa ke vita
activa, dari apakah sesuatu itu ke bagaimanakah sesuatu bekerja, dan
menempatkan homo
faber di tempat tertinggi kebudayaan dengan menekankan
nilai
instrumental. Tanpa secara eksplisit
dapat dihubungkan dengan tindakan manusia di dalam kehidupan bersama,
berkembang menjadi kekuatan teknis yang merembes masuk ke hampir
semua lapis kehidupan.