• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>"Cultural Studies"dan Tersingkirnya Estetika

.

"Cultural Studies"dan Tersingkirnya Estetika

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : Ahmad Sahal
Dalam mengkaji sastra, mereka tidak seperti kalangan
kritikus yang melihat sastra sebagai medium kesenian yang bernilai
pada
dirinya sendiri. Karena di mata mereka, sastra
hanyalah suatu teks budaya atau dokumen sosial yang mengandung-di
baliknya atau di luarnya-praktik-praktik penandaan (signifying
practices) yang selalu merupakan hubungan kekuasaan yang timpang.Apa yang disebut nilai-nilai keindahan yang menjadikan
teks sastra selama ini diletakkan dalam posisi high culture ternyata
hanyalah suatu konstruksi sosial, bukan sesuatu yang alamiah. Posisinya yang adiluhung dalam budaya adalah hasil pemaksaan selera dan cita rasa kelas sosial tertentu yang dominan. Mungkin persisnya bukan pemaksaan, melainkan hegemoni.
Pemaksaannya tidak berlangsung dengan kekerasan melainkan dengan
bujukan dan kesukarelaan, yang ditutup-tutupi atau dilupakan sehingga
selera dan cita rasa kelas tertentu itu seolah-olah merupakan nilai
universal yang bernama keindahan. Pretensinya bukanlah kajian-kajian yang steril yang
selama ini tampak dalam disiplin akademis yang ada, melainkan kajian
yang berwatak emansipasi, yakni berpihak kepada yang terpinggirkan dan
tak tersuarakan (the subaltern)-baik dari segi kelas sosial, ras,
maupun gender-dalam kanon resmi suatu kebudayaan.
Dan karena kanon resmi ditentukan oleh mereka yang borjuis, berkulit
putih, dan laki-laki, berpusat-Barat dan berwatak logosentris, maka
aksentuasi pemihakan terhadap "yang lain" (the other) dalam cultural
studies tercermin dalam kajian yang merayakan difference dan
pluralisme, seperti kajian postkolonial, multikultural, juga kajian
feminis, gay dan lesbian, etnik dan kulit berwarna.Saya kira, sikap anti esensialisme dan penghargaan
kepada praktik budaya sehari-hari yang menjadi ciri cultural studies
layaklah dicatat sebagai sumbangan pemikiran yang sangat berharga bagi
kita . Setidaknya, kita tidak lagi melihat
kebudayaan dengan kaca mata antropologi lama yang memakai dikotomi
budaya maju/primitif, atau mematok kebudayaan dalam satu karakter
tunggal yang ajek (misalnya, "budaya Jawa adalah harmoni", "Barat
berdasar rasio, Timur pakai rasa").Wacana tubuh berurusan dengan sesuatu yang inderawi
(sensuous) yang konkret, bersifat nisbi, terbatas, sementara dan tak
bisa dikendalikan oleh kerangka diskursif. Karena itu, yang berharga di sini adalah momen-momen pengalaman yang tak bisa diulang (einmalig) dan penuh ketakterdugaan.
Berbeda dengan wacana konseptual yang dikendalikan oleh gagasan,
kebenaran atau tujuan yang bisa dipatok sebelumnya, wacana tubuh
mengimplikasikan suatu proses gerak yang bernilai pada dirinya sendiri,
tanpa memikirkan telos (tujuan) Kalau boleh mengutip ungkapan Chairil
Anwar, wacana tubuh adalah kesiapan untuk: "Terbang/ Mengenali gurun,
sonder ketemu, sonder mendarat//--the only possible non-stop
flight//Tidak mendapat".
Diterbitkan di: Oktober 19, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.