Sesungguhnya,
imajinasi dan
intuisi yang terutama
menggerakkan terciptanya teori dan temuan ilmiah, seperti juga terjadi
pada dunia
sastra. Sayangnya, pikiran dan perasaan serta intuisi sering kali dianggap sebagai hal yang berlawanan.
Demikian terungkap
dalam Seri Ke-12 Diskusi Sastra bertajuk "
Sains dan
Sastra" yang diselenggarakan Bale Sastra Kecapi, Harian Kompas, dan
Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Jumat (3/8).Ujungnya, hanya teori yang punya daya prediktif yang tinggilah yang akan mampu bertahan.
Ketahanan terhadap benturan di ruang-ruang eksperimen dan observasi
yang akhirnya menentukan kebertahanan sebuah teori. Akan tetapi,
mendahului semua langkah empiris itu, teori pertama-tama ialah hasil
imajinasi. Teori-teori besar sekalipun dimulai dari imajinasi dan
intuisi.
Teori Heliosentris (matahari sebagai pusat orbit) yang dilontarkan
Copernicus tahun 1512 tentu dimulai
dengan imajinasi dan intuisi, bukan
observasi dengan pergi ke orbit matahari pada tahun itu.Sastra dan sains Nirwan A Arsuka mengatakan, pertemuan
antara sastra dan sains dalam ranah metafisis adalah sama-sama berupaya
mengajukan model-model tentang kenyataan. Persinggungan lainnya ialah pada ranah formal, yakni sama bermain dengan manipulasi simbolik.
Sains juga dapat menjadi inspirasi bagi sastrawan atau juga sebaliknya.
Edgar Allan Poe (Eureka), Lewis Carrol (Alice’s Adventure in
Wonderland), dan Jorge Luis Borges (Ficciones) merupakan penulis yang,
menurut Nirwan, berhasil menautkan sastra dan sains. Yasraf Amir Piliang mengungkapkan, perkembangan sains
teknologi dan sastra di Indonesia sendiri secara umum masih
terperangkap dalam bingkai "dua budaya", yakni sains belum memberikan
masukan berarti dalam perkembangan sastra.
Sementara kecenderungan umum dalam sastra kita, yakni merayakan sains
dan teknologi dengan kekaguman, atau bersikap kritis terhadap sains dan
teknologi.
Ringkasan lain tentang Harry Aveling dan Sastra Indonesia