Wacana
sastra bukanlah sesuatu yang
eksklusif, akan tetapi terkait atau menjadi bagian dari wacana sejarah,
sosial,
budaya, dan politik. Karena itu, di
samping analisis yang dalam dan uraian yang enak dibaca, kritik
sastra hendaknya bermanfaat untuk memahami berbagai
wacana di masyarakat.
Dalam seminar membahas kritik sastra di Pusat Bahasa, Jakarta, Selasa
(20/9), Dr I Nyoman Darma Putra dari Fakultas Sastra Universitas
Udayana mengemukakan seputar munculnya sorotan yang menganggap kritik
sastra Indonesia sebagai wilayah yang sepi dan rapuh atau mengalami
stagnasi.
Berbagai sorotan negatif terjadi lebih karena kegagalan kritikus untuk
memberi interpretasi yang relevan dalam usaha pemahaman umum kita
terhadap wacana yang berkembang di masyarakat, kata Darma, yang tampil
sebagai penyaji makalah bersama Prof Dr Rachmat Djoko Pradopo dan Dr
Faruk, keduanya dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.Kritik sastra ilmiah tahap awal (hingga tahun 1980),
menurut Rachmat masih memakai teori campuran yang saling bertentangan,
yaitu kritik berdasar teori strukturalisme yang berorientasi sastra
obyektif dicampur dengan orientasi ekspresif dan pragmatik.
Kritik sastra produktif
Darma mengatakan, perkembangan teori sastra memungkinkan untuk melakukan kritik sastra yang melampaui teks.
Pendekatan postkolonial, feminisme, sosiologi sastra, new historicism,
antropologi, kajian budaya, dan sebagainya, membuka jalan untuk
mengkaji teks terkait dengan latar belakang sosial dan dengan teks lain
di dalam atau di luar sastra. Darma menyebut
kritik sastra semacam itu sebagai kritik produktif, yang tidak saja
bermanfaat bagi kehidupan sastra, tetapi juga untuk memahami wacana di
luar sastra.