Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Suara Perempuan sebagai Saksi Zaman

.

Suara Perempuan sebagai Saksi Zaman

Summary rating: 2 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Melani Budianta
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 153  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 19, 2007
Salah satu aspek diri Kartini yang kurang dimunculkan
dalam peringatan setiap tanggal 21 April adalah sosoknya sebagai
seorang pemikir kritis yang terjebak oleh zamannya.
Sejak berusia belasan tahun, gadis bangsawan Jawa itu mengamati segala
sesuatu di sekitarnya, dan yang terjadi pada dirinya dengan sorotan
yang jernih dan tajam.Julia adalah pendiri Yayasan Almanak Politik Indonesia
(API) dan termasuk salah satu aktivis yang turun ke jalan dalam aksi
Suara Ibu Peduli, demonstrasi pertama dalam rangkaian gerakan massa
yang menggerakkan reformasi. Tetapi, dalam
wawancaranya di The Jakarta Post pada tahun 1999, Julia menandaskan
bahwa aktivisme yang sebenarnya terletak pada tulisan-tulisannya yang
menggugat berbagai konstruksi mapan yang ada. Melalui sembilan esai, yang dipublikasikan di
berbagai media massa dan jurnal mancanegara, Julia muncul bukan sebagai
seorang komentator politik "dari dalam" yang memberikan pembaruan
kepada dunia tentang perubahan sosial politik yang terjadi di
Indonesia, sambil meletakkan konteksnya dalam perspektif sejarah. Dilengkapi dengan esai kedua dengan topik yang sama
tentang negara dan seksualitas dalam budaya birokrasi pegawai negeri,
kedua tulisan Julia telah menjadi acuan "wajib" bagi para pakar
Indonesia maupun mancanegara yang mempelajari masalah perempuan di
Indonesia. Sumbangan pentingnya di sini adalah menunjukkan
bagaimana hal tersebut terlihat dalam perwujudannya yang spesifik dalam
berbagai konteks di Indonesia dalam era pembangunanisme Orde Baru,
dalam konflik dan militerisme, serta kapitalisme global-lokal.

Tidak terjebak dalam dikotomi penguasa-korban, Julia
mengilustrasikan-dalam catatan etnografis yang rinci di perkebunan
karet Citandoh-berbagai strategi perempuan dan laki-laki untuk bertahan
dalam berbagai kungkungan ekonomi dan sosial.

Bagian yang sangat penting bagi mahasiswa dan peneliti
kajian perempuan di Indonesia ini, di sisi lain menunjukkan betapa
banyak amunisi ilmiah perlu dikerahkan untuk menggoyahkan aksioma "di
Indonesia tidak ada masalah dengan perempuan".
Melalui esai-esainya yang menyentuh permasalahan yang traumatik bagi
perempuan Indonesia, yakni pemerkosaan massal di bulan Mei 1998 dan
kekerasan militeristis di daerah-daerah konflik inilah, Julia menjadi
juru bicara yang penting bagi korban dan aktivis kemanusiaan.Tulisan Julia (tujuh makalah ilmiah, satu catatan
etnografis, tujuh esai, dua tesis dan tiga kolom) yang tersebar di
berbagai jurnal dan koran mancanegara ini dikumpulkannya sendiri
sebagai hadiah untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-50.
Dalam sebuah kolom di majalah wanita baru-baru ini, Julia menjelaskan
motivasi di balik "hadiah untuk diri sendiri": "Mungkin hadiah yang
paling ’tinggi’ adalah kepuasan yang kita dapat dengan memberi dari
diri kita-ilmu, waktu, energi, perasaan, kasih sayang-bagi orang lain,
yang membuat kita merasa berguna. Kerumitan yang dialaminya karena berada di dunia
perbatasan ("Barat-Timur, intelektual-aktivis, pemimpi yang
idealis/realis, pemberontak-tradisionalis dan … feminis-’femme fatale’)
dimanfaatkannya untuk menjadi sumber kreativitas dan sarana untuk
menjadi "mediator budaya". Satu abad yang lalu,
seperti Julia, Kartini juga dibesarkan di perbatasan dua dunia dan dua
bahasa, tetapi posisi ini membawa konsekuensi yang sangat berbeda.
Penguasaan bahasa dan budaya yang menjadi kunci lompatan bagi generasi
Julia untuk memperoleh akses dan kebebasan gerak, dalam konteks Kartini
menjadi pembuka kesadaran akan kungkungan yang tak mungkin dilampaui.

Kartini lahir dalam keluarga bangsawan Jawa yang hanya
mengirim anak laki-laki ke luar negeri, sedangkan Julia lahir di New
Delhi, India, dan dibesarkan di Eropa, sebagai anak diplomat Indonesia
yang terbiasa melanglangbuana. Jika Kartini
remaja melahap literatur dunia dalam Bahasa Belanda diam-diam dalam
pingitan di kamarnya, Julia membaca filsafat dunia dalam bahasa
Inggris, Perancis dan Jerman, di usia belasan tahun di sebuah sekolah
internasional Amerika di Roma.

Ringkasan lain tentang Suara Perempuan sebagai Saksi Zaman
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------