Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (2): HR Bandaharo - Dosa Apa

.

Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (2): HR Bandaharo - Dosa Apa

Summary rating: 5 stars 1 Tinjauan
Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Summary by : akibr
Kunjungan : 127  kata: 900   Diterbitkan di: Oktober 19, 2007
Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (2) :
 
HR Bandaharo – Dosa Apa 
 
 
Oleh : A. Kohar Ibrahim
 
 
SALAH seorang penyair terkemuka Indonesia, HR Bandaharo, telah meninggal dunia pada tanggal 1 April 1993, di Jkarta. Demikian baris pertama tulisan saya : « In memoriam HR Bandaharo » untuk edisi istimewa Majalah Sastra dan Seni KREASI Nomor 13, Mei 1993. Dengan mengutarakan biodata almarhum yang tercantum dalam kupuisinya berjudul « Dosa Apa », sebagai berikut :
 
« HR Bandaharo, penyair angkatan Pujangga Baru, lahir di Medan pada tahun 1917. Ia adalah anak HR Mohammad Said, Konsul Muhammadiyah untuk Sumatera Timur pada masa sebelum Perang Dunia Ke-II.
Ia mendapat pendidikan menengah Belanda MULO. Sejak berumur 16 tahun ia telah bergiat di bidang sastra. Tulisannya antara lain dimuat di majalah Pedoman Masyarakat Medan yang dipimpin HAMKA dan Yunan Nasution.
Karyanya yang telah diterbitkan sebelum Perang  Dunia Ke-II, « Sarinah dan Aku », sebuah puisi bersifat patriotik dengan gaya realisme romantik.
Ketika Revolusi Agustus ’45 meledak-ledak di Sumatera Timur, HR Bandaharo juga terjun ke tengah-tengahnya.
Ia menulis untuk beberapa suratkabar di Medan.
Karya-karyanya kemudian juga dapat ditemukan di majalah kebudayaan Zaman Baru, Zenith, Kebudayaan dan lain lain.
Pada masanya ia juga dikenal sebagai penyair LEKRA, yang terkemuka. »
 
Demikian biodata ringkas, terlalu ringkas untuk salah seorang tokoh pekerja kebudayaan dan penyair 3-Zaman yang terkemuka. Namun Apa daya. Rupanya « sikon » di bawah rezim Orde Baru memang memaksa, dipaksa, terpaksa orang harus « memotong-cincang » atau « meringkas-tandas » atau « melenyapkan » jejak-langkah-nya – kalau tidak digelap-sirnakan sama sekali oleh Sang Penguasa. Politik « penggelapan » sebagai kebalikan dari « penerangan » yang dilakukan kaum penguasa tiranika memang berdampak luarbiasa terhadap generasi muda. Kebanyakan mereka jadi kurang atau malah tidak mengenal para pekerja kebudayaan, seniman, pengarang dan penyair Indonesia yang telah turut aktif ambil bagian membina seraya memperkaya warisan kebudayaan nasional, bahkan internasional.  Baru setelah lama kemudian, setelah lengsernya sang kepala rezim Orde Baru, generasi muda Indonesia lamat-lamat mendengar adanya barisan pekerja kebudayaan macam HR Bandaharo itu. Meskipun, bahkan sampai detik ini, banyak dari mereka yang masih « tenggelam », « ditenggelamkan », dipinggirkan, baik akan eksistensi mereka maupun pembendungan berbagai cara yang dilakukan kalangan resmi ataupun tidak resmi, namun bermentalitas Orbais. Suatu fenomena kesengajaan dalam penggelapan atau pembengkokkan sejarah umumnya, khususnya sejarah kebudayaan Indonesia, lebih khusus lagi sejarah kesusastraan Indonesia secara tak tahu malu itu masih dilanggengkan hingga saat naskah bloknota ini disusun . Medio Oktober 2007 !
 
Sikap pendirian yang berupa  kesewenang-wenangan baik resmi maupun tak resmi, terang-terangan maupun diam-diam, itu hanya menunjukkan kemandulan bahkan kepengecutan kekuasaan sekalipun arogan dan kelumpuhan intelektual untuk memberi jawab atas pertanyaan, seperti yang diajukan penyair Bandaharo : « Dosa Apa » ?
 
Iya. Bagiku, judul sajak yang lahir sebagai pengungkapan realita derita nestapa itu sarat akan gugah-gugatan seketika pun terutama sakali kemudian hari. Yakni sampai ke masa kini dan mungkin juga sampai masa datang – selama kebenaran dan ketidak-adilan di Negara Hukum ini belum lagi ditegakkan. Selama jutaan sarjana, termasuk ahli hukum, budayawan, intelektual dan mereka yang selayaknya memiliki rasa tanggungjawab atas kelangsung-sinambungan sejarah bangsa yang utuh, atas kemaju-munduran kebudayaan serta pelestarian warisan nilai-nilai yang baiknya, masih membutakan mata menulikan telinga atau  masih lumpuh ataukah dilumpuhkan oleh ragam kekuatan-kekuasaan dengan latar belakang kepentingannya masing-masing.
 
Padahal, selama sekian dasawarsa belakangan ini hingga kini, sudah banyak bahan dokumentasi atau literatur yang bisa dijadikan bahan pertimbangan atau nalar untuk membantu menegakkan hak yang adil dan yang benar. Hal-ihwal berkenaan dengan sejarah rakyat dan bangsa Indonesia. Sejarah yang bergoreskan cerita realita derita sengsara – seperti yang diungkapkan oleh HR Bandaharo dalam sajak « Cerita »nya dan yang disusul oleh « Dosa Apa ».
 
Cerita
 
ada cerita dating / putera - puteri tanahair bermatian / mayat - mayat bergelimpangan di jalanan / atau berhanyutan di sungai - sungai
 
untuk apakah semua kematian ini / harus menimpa tanahair? / mereka yang mati tiada mengetahui.
 
hati jadi hitam karena dihasut / dan membunuh jadi kebajikan. / yang mati adalah yang dihasut  / yang membunuh adalah yang dihasut. / penghasut-penghasut dianggap pahlawan.
 
putera - puteri tanahair bermatian / begitu cerita datang / ketika musim hujan sudah mulai
dan flamboyant merah mengembang.
 
*
 
Dosa Apa
 
kelam mnyungkup malam / laksana langit terhempas ke bumi. / bintang – bintang pudar bertaburan / besi dan besi berlaga, memercikkan api. / kelam menyusupi kalbu. / setiap orang meraba tanpa pedoman / berkeliaran tanpa tuju / dalam suatu arak – arakan  / buta mata – tuli telinga.
 
putera – puteri agustus terseret ke belakang kawat – duri / membawa hati penuh tanya / tentang dosa apa dan dosa siapa.
 
lalu menyerahlah siapa yang menyerah / karena rela menerima sendiri / dosa tak pernah diperbuat – / tercoret kening, tertampar pipi.
 
*
 
Bagi saya, memang kedua sajak HR Bandaharo itu bermakna gugahan sekaligus gugatan akan Peristiwa Kontra-Revolusi Berdarah 1 Oktober 1965 teriring penegakkan Singgasana Kekuasaan di kolam darah dan air mata para korban kejahatan kemanusiaan yang paling dahsyat dalam sejarah Indonesia modern. Peristiwa politik yang berubah Tragedi Nasional menelan jutaan korban yang mayoritasnya adalah justeru terdiri dari putera-puteri Indonesia tanpa dosa. Suatu permasalahan besar rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia yang menuntut keterjelas-tuntasannya sejak dulu hingga detik ini ! ***
 
 
 
 
 
 

Ringkasan lain tentang Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (2): HR Bandaharo - Dosa Apa
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------