Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Kesenian Tradisi dan Konflik Budaya

.

Kesenian Tradisi dan Konflik Budaya

Summary rating: 2 stars 8 Tinjauan
Pengarang : TJAHJONO WIDIJANTO
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 578  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 18, 2007
Secara historis akar konflik kebudayaan Jawa berupa pertentangan budaya
antara (1) budaya pedalaman dengan budaya pesisiran, (2) budaya keraton
(Mentaraman) dengan budaya rakyat, dan (3) budaya santri dengan budaya
abangan.
Sunan Kudus sebagai guru dari Arya Penangsang
sebenarnya merupakan wakil budaya pesisiran yang berhadapan dengan
Sunan Kalijaga dan Adiwijaya yang merupakan presentasi dari budaya
pedalaman.

Politik kebudayaan Jawa Mataram mencoba membuat jarak
dengan budaya pesisir dengan meletakkan laut sebagai sesuatu yang
disakralisasikan, sebagai suatu misteri yang merupakan sumber kekuatan
dan inspirasi para raja Mataram sehingga laut menjadi hal yang amat
suci, tetapi sekaligus hal ini memencilkan laut (dan pesisir) dari
persinggungan budaya yang lebih luas.
Kerajaan Mataram menumbuhkan pola pikir budaya dan politik yang selalu
berorientasi dengan mitologi, yang hingga saat ini masih mewarnai
budaya berpikir penguasa-penguasa kita.
Orientasi mitologis ini terlihat dengan dimunculkannya mitos Nyai Roro
Kidul (Ratu Kidul) dan munculnya Babat Tanah Jawi yang di dalamnya
memuat silsilah pendiri Mataram yang dikaitkan sekaligus
mencampuradukkan tokoh mitologis dengan nama-nama nabi.

Ini terjadi ketika budaya pedalaman semakin kokoh dan
kekuasaan Mataram membuat benteng budaya baru berupa keraton dan
pembagian daerah keraton.
Keraton merupakan sentrum dan daerah yang berada di luar keraton
(mancanegari, brang wetan, pesisiran, dan lain-lain) dianggap sebagai
kesenian ''resmi'' dan adiluhung, sedangkan kesenian lain di luar wilayah
keraton dianggap sebagai seni pinggiran yang secara estetis dan etik di
bawah kesenian keraton.

Kehalusan, kerumitan, dan keteraturan yang menjadi
standar estetika budaya keraton dilawan dengan kebebasan,
keekspresifan, dan kebebasan improvisasi.
Apabila kesenian keraton bersikap tertutup dan mensyaratkan suasana
yang khusus, maka kesenian rakyat atau pesisiran berlangsung dengan
suasana pesta dan hiruk-pikuk yang kemudian menghadirkan suasana yang
serba permisif.
Kebudayaan santri sebagai kebudayaan baru yang
sebenarnya juga muncul dari daerah pesisiran, tetapi dari lingkungan
pengaruh kuat agama Islam menganggap estetika kebudayaan rakyat (yang
kemudian disebut pula dengan abangan) sebagai sebuah kesenian yang
terlampau primitif.
Hal ini terjadi karena berbeda dengan budaya
rakyat/abangan, yang lebih berorientasi pada ekonomi dan pop art
(budaya massa), serta lebih menekankan bentuk performance, maka budaya
santri seperti halnya budaya keraton lebih berorientasi pada filosofi
dengan bentuk wacana narasi atau teks.
Namun demikian kehadiran seni sastra itu sendiri menunjukkan pula
perbenturan ideologis antara budaya santri dengan budaya keraton yang
sebenarnya juga abangan. Teks-teks sastra semacam Suluk Wujil, Serat
Cebolek, Wirid Hidayat Jati atau Serat Siti Jenar menunjukkan
pertarungan ideologis sekaligus sintesa antarabudaya keraton-abangan
versus budaya santri.

Ringkasan lain tentang Kesenian Tradisi dan Konflik Budaya
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------