Refleksi di wilayah
filsafat ini, khususnya
fenomenologi dan hermeneutik, membawa konsekuensi radikal dan jauh
dalam mengubah persepsi tentang "kebudayaan" yang sering tidak disadari
bahkan oleh mereka yang berkecimpung di bidang antropologi sekalipun.
Akhirnya, konsep
itu kini bahkan keluar dari batas wilayah antropologi
dan masuk ke bidang studi sejarah, politik, kajian sastra, ekologi,
kajian tentang perdamaian, dan terutama menggumpal dalam sosok
interdisipliner "cultural studies", di mana komik Superman atau musik
rap, misalnya, dilihat berebut pengaruh
dengan retorika para tokoh
politik atau dengan karya sastra "tinggi".
Meskipun pengertian kebudayaan kini telah menjadi sedemikian luas, toh
ada beberapa tendensi umum yang terus-menerus berlaku dalam pemahaman
modern atas kebudayaan itu, yang sebetulnya kini telah menjadi
problematis setelah kemunculan fenomenologi dan hermeneutik.
Baginya Lebenswelt tak lain adalah medan eksistensi, yaitu realitas (being), yang tampil dalam sejarah dan
hidup bersama.
Pandangan ini mengakibatkan dunia filsafat menjadi lebih tegas
berkiblat pada dunia pengalaman konkret manusia, dalam masyarakat,
tradisi dan kebudayaan.Sebagai aliran yang dinamis dan hidup, setiap kebudayaan memiliki prinsip perubahan intern sendiri.
Kebudayaan terdiri atas unsur-unsur yang keterkaitan satu sama lainnya
sangatlah longgar sehingga setiap kali mudah dibongkar dan ditata
kembali sesuai dengan lingkungan yang berubah.
Misalnya, ketika kepercayaan dan nilai tak lagi bersambungan, politik
berada dalam tegangan antarberbagai oposisi, atau makna-makna baru
mensubversi yang lama, dan seterusnya.
Ia
juga merupakan pergumulan kekuasaan, terutama
kekuasaan pemaknaan atas hal-hal penting dalam hidup, seperti atas soal
jender, hak milik pribadi, dan hak asasi Maka, kebudayaan juga
merupakan kemampuan untuk memperbarui dan menata ulang secara kreatif,
proses transmisi dan transformasi, berdasarkan pada kondisi yang ada
dan kemungkinan yang tersedia.
Dalam peristiwa hubungan-hubungan personallah, yaitu
hubungan dengan berbagai tangan gurita itu, bentuk paling hidup dan
real suatu kebudayaan bisa ditangkap dan dirasakan.
Analogi lain adalah sistem kebahasaan.
Di satu pihak kebudayaan adalah sesuatu yang telah berbentuk tertentu,
yaitu ibarat sistem kosakata dan gramatika baku, pola-pola dasar yang
bisa saja dianggap semacam core value suatu kebudayaan dalam konotasi
Huntingtonian. Di pihak lain nilai dan makna
terdalam suatu kebudayaan hanya tampil secara konkret sebetulnya pada
fenomena sehari-hari, ibarat penggunaan sehari-hari suatu bahasa, yang
sebetulnya plural, personal, parsial, elusif, dan tak pasti.
Sebaliknya, ia mampu pula menyingkapkan aspek-aspek
tak manusiawi dan tak dikehendaki yang tersembunyi dalam sistem nilai
dan perilaku
kita.
Dalam interaksi macam itu, karenanya, mau tak mau selalu ada semacam proses perbandingan.
Dari situ kita dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan baru untuk
memahami dan menafsirkan tradisi kebudayaan kita, juga cara-cara baru
untuk merumuskan diri dan sejarah pribadi (Gadamer).
Modernisasi berperan sangat penting dalam memperluas dan memperdalam
kemungkinan hubungan dialogis interkultural, dalam memupuk otonomi
individu sehubungan dengan tradisi, maka juga dalam membentuk prisma
refleksi personal di atas tradisi (kebalikan dari situasi pramodern, di
mana tradisilah yang mengontrol refleksi personal).
Pertama, filsafat maupun seni mampu menyingkapkan
ambiguitas dan kompleksitas dunia manusia alias Lebenswelt: dinamika
dan gerakan-gerakannya yang hidup, konflik dan
kontradiksi-kontradiksinya yang sering tersembunyi, penderitaan dan
kerinduan-kerinduannya, maupun aspek "keperistiwaan" dan
"kemengaliran"nya (eventful and fleeting characters).
Kedua, dengan cara itu filsafat dan seni akan sangat membantu dalam
memetakan kembali setiap kali persoalan eksistensial terselubung di
balik kehidupan kita sehari-hari.
Pada gilirannya ini akan merintis jalan ke arah perumusan ulang apa
yang sesungguhnya kita kehendaki dan tidak kita kehendaki dan membuka
kemungkinan baru untuk memahami kemanusiaan kita. Ketiga, dalam
hal itu filsafat dan seni berfungsi sebagai nurani kebudayaan.
Dengan memetakan ulang kehidupan kita, mereka juga membantu kita
merumuskan hipotesis baru tentang apa sebetulnya panggilan terdalam
hidup kita, membantu mengejawantahkan kebebasan kita ke tingkat paling
tinggi, yaitu ke arah tanggung jawab moral.
Keempat, filsafat dan seni, dengan kemampuannya merogoh
pengalaman-pengalaman konkret sehari-hari, akhirnya juga mampu
menyingkapkan kedalaman universal pengalaman manusia, keterikatan tak
terlihat antarmanusia yang memungkinkan solidaritas lebih luas dan
lebih besar.
Ringkasan lain tentang Kebudayaan, Filsafat, dan Seni