• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Erotisme dan Pornografi

.

Erotisme dan Pornografi

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : BENNY H HOED
Ketika pornografi dibicarakan di kalangan terbatas atau dalam pembicaraan sehari-hari, tidak ada sesuatu yang penting terjadi.
Apalagi terus lahir kata baru: pornoaksi ''aksi yang pornografis''. Mengapa?
Marilah kita bicarakan dulu kata erotisme yang memang dapat dikaitkan dengan pornografi.
Erotisme berasal dari kata Yunani kuno Eros, nama dewa cinta, putra Aphrodite. Bahasa Inggris mengenal kata eroticism yang makna dasarnya sexual excitement.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, libido diartikan ''nafsu berahi yang bersifat naluri''.
Dalam perkembangannya, erotisme berkaitan dengan cinta pada aspek libidonya. Tidak dapat dipungkiri bahwa cinta antara laki-laki dan perempuan memiliki aspek spiritual dan aspek libido. Karya sastra dan seni rupa yang mengandung aspek erotis menggambarkan realitas manusiawi yang tidak dapat dibantah.
Kata itu berasal dari kata Yunani kuno porne yang berarti ''pelacur'' dan graphein yang berarti ''menulis'' atau ''tulisan''.
Dalam bahasa Prancis kata itu disebutkan sebagai representation des
choses obscènes, penyajian hal-hal yang cabul (tulisan, gambar, atau
suara). Pornografi punya makna dasar cabul, tidak senonoh, dan kasar. Dalam erotisme ada suasana yang didasari libido, tetapi tidak harus cabul atau kasar atau tidak senonoh.
Dalam lenong atau topeng Betawi banyak lelucon yang erotis.
Dalam lukisan Bali yang tradisional banyak gambar yang erotis. Erotisme dapat diekploitasi menjadi karya pornografis jika yang ditonjolkan sifat kecabulannya. Inilah yang seringkali kita persoalkan, misalnya, dalam hal film biru atau cerita yang sengaja dibuat untuk menimbulkan berahi.
Apa yang menyebabkan karya yang erotis menjadi cabul kalau tidak ada tindakan sengaja?
Dalam teori semiotik ada yang disebut proses semiosis, yakni proses
pemaknaan dan penafsiran atas benda atau perilaku berdasarkan
pengalaman budaya seseorang.
Hubungan representasi pucuk Monas dengan interpretasi ice cream merupakan proses semiosis yang terjadi pada turis itu.
Jadi, api emas di puncak Monas itu merujuk pada pengalaman dirinya: yang seperti itu, dalam hidup saya, es krim. Sesuatu yang kita baca, lihat, atau dengar ditafsirkan sesuai dengan pengalaman dan sudut pandang kita masing-masing.
Lalu, bagimana saudara kita di Papua yang lelakinya berkoteka dan wanitanya bertelanjang dada?
Semua fenomena itu dapat menjadi pornografis kalau kita
menggambarkannya dalam sebuah proses semiosis yang cabul berdasarkan
sudut pandang kita.
Masalahnya, siapa yang mengeksploitasi? Seseorang (film biru, cerita cabul) atau kita sendiri (semiosis)?
Umumnya kita mampu membedakan yang pantas dengan yang tidak pantas. Itu diatur dalam kebudayaan kita masing-masing. Soalnya jadi lain kalau dituliskan dalam sebuah undang-undang yang harus berlaku di seluruh Nusantara yang Bhinneka itu.
Diterbitkan di: Oktober 18, 2007

Komentar

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.