Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Ketika Gambar Itu Meloncat Keluar Meninggalkan Sastra

.

Ketika Gambar Itu Meloncat Keluar Meninggalkan Sastra

Summary rating: 2 stars 2 Tinjauan
Pengarang : Bambang Bujono
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 180  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 18, 2007
Tangan lelaki berbaju merah itu memegang bunga, di
latar belakang adalah peta dunia, dan sesosok bunga hitam di depan,
seolah siap mematuk si lelaki, mengancam bak monster
Inilah ilustrasi untuk cerita pendek Permata Bernstein, dimuat di
Kompas edisi Minggu di bulan November 2002.
Ilustrasi itu, bersama sejumlah ilustrasi cerita pendek di surat kabar
tersebut yang terbit di tahun 2002, dilepaskan dari karya sastranya,
kemudian dipajang di Bentara Budaya, Jakarta, mulai hari ini.
Gambar tersebut, karya Andarmanik, tak menggambarkan satu adegan dari
cerita pendek Permata Bernstein, yang notabene sebuah cerita pendek
"biasa", kisah yang sangat mungkin terjadi sehari-hari.
Di majalah yang kemudian terbitnya, Horison, ia membuat gambar yang simbolis untuk sebuah cerita pendek yang "biasa".
Danarto, yang menghiasi cerita pendeknya sendiri, masih menggambarkan
adegan, namun dalam bentuk yang tidak realis, katakanlah surealis
(cerita pendek Sandiwara atas Sandiwara).
Itu gambar kapal sebagaimana lukisan Rusli lazimnya, yang ekonomis: hanya beberapa potong sapuan garis yang membentuk kapal.

Dari "tafsir" itulah pameran Ini berbeda dengan ilustrasi masa sebelumnya.
Para penggambar ilustrasi cerita pendek di Kompas tahun 2002 pada
umumnya tak lagi bertafsir realistis, tak lagi mencoba menggambarkan
adegan seperti yang dikisahkan dalam cerita pendeknya.
Yang dihadirkan adalah dunia imajinatif, yang mungkin puitis, atau bersuasana mimpi, bisa juga sebuah dunia yang fantastis.

Ada upaya menafsirkan benda, sosok, dan peristiwa kembali tak sebagaimana lazimnya. Gambar-gambar itu dijungkirbalikkan, dipertentangkan satu dengan yang lain sehingga terjadi hubungan yang mustahil.
Seperti anak-anak menggambar, Tisna dengan bebas
meletakkan apa saja dan mendadak muncullah suasana: dalam gambar
ilustrasi ini, gunung, nyiur, dan matahari di sudut kiri atas adalah
pembentuk suasana itu.

Ditambah, bagaikan anak-anak menggambar, yang tak
peduli soal perspektif dan bentuk kenyataan sehari-hari, Tisna
menggambar para pengusung jenazah dalam proporsi yang sama sekali
membuyarkan logika.
Kalau Anda merasa selalu ada yang terpancar dari karya ini, antara lain
karena itulah: ketegangan antara yang logis dan tak logis, antara
terang dan gelap, antara kecanggihan dan kenaifan bentuk.
Dengan kata lain, gambar-gambar ilustrasi yang dipamerkan ini adalah
sebuah karya rupa yang bukan lagi hasil terjemahan "kata demi kata,
kalimat demi kalimat", melainkan terjemahan dari kata menjadi gambar.
Proses lahirnya gambar-gambar ini merupakan proses penerjemahan
sebagaimana pengertian terjemahan yang pernah diutarakan oleh Sapardi
Djoko Damono, penyair itu, yakni menerjemahkan karya sastra pada
hakikatnya adalah menciptakan karya sastra baru.

Ringkasan lain tentang Ketika Gambar Itu Meloncat Keluar Meninggalkan Sastra
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------