Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Melihat Separuh Dunia di Isfahan

.

Melihat Separuh Dunia di Isfahan

Summary rating: 2 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Bambang Budi Utomo
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 92  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 18, 2007
Ketika dunia internasional yang dipelopori Amerika
Serikat heboh mengecam dan mendiskreditkan Iran dalam urusan pengayaan
uranium, Indonesia mempererat tali persahabatan dengan negara itu.
Memang tidak ada alasan untuk ikut-ikutan negara Barat untuk mengecam
Iran karena dilihat dari perspektif kebudayaan, Indonesia sejak abad
ke-8 telah berhubungan dengan Iran yang kala itu bernama Persia.
Dari Persia mereka membawa gelas-gelas Persia dan karpet yang terkenal keindahannya.
Kembali ke negerinya dari bumi Sumatera, mereka membawa hasil hutan
yang pada waktu itu berupa kapur barus (kamper) dan bahan wangi-wangian.
Ia juga berjasa dalam membawa bahasa dan sastra Melayu ke tingkat baru yang lebih maju.
Berbicara mengenai perdagangan dan kebudayaan Persia di Indonesia,
tentu kita akan membayangkan bagaimana sebenarnya kehidupan berbudaya
di Persia sebagai tempat asal budaya tersebut.
Lamat-lamat terdengar, entah dari bacaan, media elektronik, atau kabar
teman, bahwa pusat kebudayaan Persia berada di sebuah kota di jantung
daratan Persia, yaitu Isfahan.

Pada masa itu (abad ke-16 Masehi) Isfahan bukan saja
sebagai ibu kota kerajaan, tetapi juga sebagai pusat industri karpet,
tekstil, ubin keramik yang beraneka warna, dan pusat seni barang-barang
logam dan kaca. Pengapalan produk-produk ini dilakukan di Siraf dan Bandar Abbas, dua pelabuhan penting Persia di pantai Teluk Persia.
Naqsh-e Jahan Square
Pada waktu Isfahan menjadi ibu kota pada masa Safavid, Naqsh-e Jahan
Square atau dikenal juga dengan nama Emam Square dan bangunan-bangunan
di sekitarnya menjadi terkenal.
Tempat tersebut merupakan salah satu square terluas dan terindah di
dunia, di mana berbagai permainan sering dimainkan, salah satunya
adalah polo.
Bangunan-bangunan bersejarah seperti Masjid Emam,
Masjid Sheikh Lotfollah, bazaar, dan Ali Ghapoo (gerbang utama)
mengelilingi square tersebut. Dalam lingkungan
ini segala macam aktivitas, mulai dari aktivitas kenegaraan, agama,
sampai pada aktivitas perekonomian, berlangsung pada sebuah kompleks
yang terpadu.
bangunan ini dibangun dalam beberapa tahap, dimulai
dari sebuah gerbang masuk yang sederhana, kemudian menjadi istana, dan
terakhir menjadi gerbang yang mewah.
Bangunan Ali Ghapoo merupakan bangunan serbaguna, lantai satu digunakan
untuk pintu masuk raja, lantai dua digunakan untuk penerimaan tamu, dan
lantai tiga digunakan untuk istirahat dan hiburan seperti mendengarkan
musik. Ivan atau beranda yang terletak di lantai 3 memiliki 18 pilar, interiornya dihiasi dengan stucco dan lukisan-lukisan dinding.

Ringkasan lain tentang Melihat Separuh Dunia di Isfahan
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------