Perbedaan-perbedaan dalam
sejarah sesungguhnya memberi pelajaran kepada umat manusia perihal toleransi dan kebebasan.
Aforisma Francois Caron, Guru Besar Sejarah Universitas Sorbone, Paris,
Perancis,
ini kiranya sangat tepat buat merangkum seluruh
kontroversi dan perdebatan
buku Tuanku Rao. Buku yang
dipublikasikan pertama kali tahun 1964 oleh Penerbit Tandjung Harapan
ini memang memicu polemik seputar Gerakan Paderi di Sumatera Barat dan
ekspansi pasukan Paderi di Sumatera Utara pada abad ke-19.
Satu-satunya sumber hanyalah memoar Tuanku nan Renceh
yang disalin
dari tulisan-tulisan berbahasa Arab ke Latin oleh Sutan
Martua Raja—ayah Mangaradja Onggang Parlindungan. Sutan Martua Raja sendiri tak lain cicit dari Tuanku Lelo. Anakronisme sejarah terjadi
karena Parlindungan miskin sumber pembanding dan kurus referensi.
Berbagai tarikh, buku Tuanku Rao, mudah longsor, karena dibangun di atas argumentasi rapuh. Kontroversi menyengat karena Parlindungan sangat subyektif soal mazhab Hambali dan heroisme Batak.
Senjata itulah kelak yang dihibahkan bagi Tuanku Lelo,
pahlawan Paderi yang gagah perkasa, tak lain nenek moyang Onggang
Parlindungan.
Tingki Ni Pidari
Tentara Wahabi Minangkabau bentukan para tawanan Raja Abdullah Ibn Saud adalah cikal bakal pasukan Paderi. Kelak jadi army group Tuanku Rao yang melakukan ekspansi di tanah Batak.
Dengan meriam, pasukan Paderi mampu menembus dan mengobrak-abrik
isolasi alam Tapanuli yang terlindung pegunungan Bukit Barisan dan
lembah Danau Toba.
Pongkinangolngolan merantau ke Minangkabau karena khawatir suatu hari dikenali dan dijatuhi hukuman mati. Di Minangkabau ia bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo. Pada waktu itu Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik (tiga tokoh pembaruan abad ke-19) baru kembali dari Mekkah.
Mereka, yang sedang mempersiapkan tentara untuk ekspansi gerakan Mazhab
Hambali ke Mandailing, mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh.
Kendati Parlindungan generasi ke-5 keturunan Tuanku
Lelo, buku ini diniatkan untuk merehabilitasi nama baik Tuanku Rao yang
citranya demikian remuk redam di kalangan masyarakat Batak.
Buku ini makin memperkaya data bahwa di sekujur Nusantara, masyarakat Indonesia memang ditelikung spiral kekerasan.
Persatean nasional gemar mengambil bentuk whole sale teror (teror
ombyokan)—bencana politik 1965, konflik Ambon dan Poso, kegaduhan etnis
di Sampit, kerusuhan Mei 1998, dan tragedi Alas Tlogo. Melalui bukunya, Onggang Parlindungan mengampanyekan lingkaran malaikat perdamaian.
Ringkasan lain tentang Kontroversi Sejarah sebagai Inspirasi Peradaban