Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > "Ide-ide Menerobos" Dr M Sastrapratedja

.

"Ide-ide Menerobos" Dr M Sastrapratedja

Pengarang : ST Sularto
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 75  kata: 300   Diterbitkan di: Oktober 18, 2007
TAK banyak orang jadi rektor selama 20 tahun tanpa henti dengan perguruan tinggi yang berbeda-beda.
Tetapi, Prof Dr Michael Sastrapratedja SJ melakukannya. Tahun 1980-1984
sebagai Penjabat Ketua Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta; di lembaga yang sama ia diangkat sebagai ketua pada tahun 1984-1988.
Tahun 1989-1993 sebagai Rektor Universitas Katolik Soegijapranata,
Semarang, dan tahun 1993-2001 sebagai Rektor Universitas Sanata Dharma
(USD), Yogyakarta.
Dari 20 tahun jabatan rektor itu, paling mengesankan justru saat di Jakarta dan Yogyakarta. Membekas di hati koleganya, Sastra terkesan supel, egaliter, serta tak membedakan kedudukan dan jabatan. "Manusia dihargai bukan karena profesi dan kedudukan, tetapi karena kemanusiaannya," sergahnya.
Tercatat Arief Budiman, Amin Abdullah, dan Th Sumartana turut menyumbang gagasan pengembangan kajian budaya di USD.

"Ternyata kajian budaya saja tidak cukup. Harus diperluas," ujarnya. Terciptalah program baru, Kajian Ilmu Religi dan Budaya (religions and cultural studies). Saat ini, lembaga yang diadopsi sebagai program gelar magister itu dipimpin Dr St Sunardi.

Sudah ada tiga angkatan, dan setiap angkatan terdiri dari 15-20 orang. Yang mengajar dan menjadi mahasiswa berasal dari berbagai latar belakang, agama, dan tingkat pendidikan. Ada biksu, ulama, dan ahli media, seperti Dr Ishadi SK pun mengajar di sana.

Makna humanisme menjadi lebih kentara dan berfungsi justru pada saat diperdebatkan. Humanisme selalu harus dirumuskan kembali sesuai konteks dan perkembangan zaman.
Karena itu, humanisme baru memiliki ciri, hasil dari sebuah dialog
antarbudaya sehingga filsafat tidak lagi sebagai pemegang palu
norma-norma melainkan penafsir zaman, punya tanggung jawab moral,
emansipatorik, sehingga humanisme itu menghargai dan mengembangkan
demokratisasi. Semuanya didasari nilai-nilai yang tetap dan harus terus dipegang, yakni penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia.
Humanisme sekarang dan di Indonesia semakin relevan karena ada gejala
masyarakat melepaskan faktor moralitas dan hubungan antarmanusia.

Ringkasan lain tentang "Ide-ide Menerobos" Dr M Sastrapratedja
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------