Menilai kegiatan
sastrawan masuk
sekolah bisa
menimbulkan apresiasi menyesatkan di kalangan anak-anak di sekolah
sungguh tidak berdasar. Sebab, harus diingat
bahwa dalam karya-karya sastra yang dikenal di Nusantara ini masih
dominan sastra lisan, bukan sastra dalam bentuk teks buku.
Jika ada anggapan karya-karya sastra dalam bentuk buku yang harus
diperbanyak di
sekolah-sekolah, tentu saja bagus, tetapi itu tidaklah
menjadi satu-satunya faktor untuk memperkenalkan karya sastra kepada
siswa.
"Di Indonesia ini seharusnya yang diperpadukan adalah karya sastra teks buku dan sastra lisan.
Sebab,
sastrawan masuk sekolah justru bisa menimbulkan kekeliruan, yakni apresiasi yang menyesatkan di kalangan peserta didik.
Bila masyarakat buta sastra, kalau itu memang sebuah kenyataan, maka
yang perlu diperhatikan pemerintah adalah perihal ketersediaan
buku-buku karya sastra di perpustakaan sekolah.
Tahun ini, program yang disponsori The Ford Foundation
ini juga dilaksanakan di Sumatera dengan mengambil lokasi di sembilan
daerah, seperti Batam, Pekanbaru, Tanjungpinang, dan pertemuan
terakhir, pekan depan, di Bukit Tinggi, Sumatera Barat.
Adapun sastrawan yang ikut menjadi pembicara di antaranya Taufiq
Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ikram Jamil, Ediruslan Pe
Amanriza dan Hamid Jabbar.