Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sejarah dalam Cerita Silat Kho Ping Hoo

Sejarah dalam Cerita Silat Kho Ping Hoo

oleh: NasrulAzwar     Pengarang : Eka Kurniawan
ª
 
"Raja yang memerintah di kerajaan Pajajaran (Pasundan) yang beribukota di Pakuan adalah Sri Baduga Maharaja yang disebut juga Ratu Dewata. Dari beberapa novel yang saya pilih, yang secara khusus semuanya berlatar Nusantara karena Kho Ping Hoo juga dikenal, malah lebih dikenal, sebagai penulis novel silat berlatar Tiongkok, semuanya berlatar kurun tertentu sejarah yang dideskripsikan dengan terang. Ini termasuk kategori penulis yang mencoba mengukuhkan keyakinan sejarah tertentu maupun para penulis yang mencoba memberi pemaknaan baru terhadapnya. Novel-novel sejarah Pramoedya Ananta Toer bisa dimasukkan ke kategori ini. Kedua, sejarah dipergunakan untuk memperkuat unsur-unsur fiktif di dalam karya. Sejarah tidak menjadi elemen penting di sini meskipun ia mengambil porsi yang sangat signifikan. Dalam Serat Manikmaya, misalnya, dikisahkan bahwa raja-raja Jawa merupakan keturunan dari Parikesit, melantur terus hingga muncul sosok Ajisaka, yang ternyata salah satu sahabat Nabi Muhammad yang membelot. Di dalam novel yang menjadikan sejarah sebagai pembahasan utama, tak terhindarkan munculnya anasir fiktif yang pada gilirannya akan diperkukuh keberadaannya melalui fakta-fakta sejarah. Dalam karya-karya klasik, baik dalam sejarah sastra Nusantara maupun tempat lain di dunia, sejarah telah merasuk dengan berbagai fungsinya. Akan tetapi, sering kali kesatria ini pun memiliki latar istana yang kuat dan pergi mengembara biasanya untuk menuntut ilmu, bosan dengan kehidupan mewah, atau menjalankan tugas kekesatriaan untuk menegakkan keadilan dan melawan kezaliman. Peluang yang sama mungkin dengan menciptakan tokoh Patih Anom (saya beri tekanan pula untuk kata anom) bernama Tejolaksono di sebuah kerajaan serupa Panjalu dalam seri Sepasang Garuda Putih. Seorang penulis mungkin akan menghadapi keterbatasan ketika berhadapan dengan suatu karakter sejarah, tapi bisa sangat bebas menciptakan karakter baru di sekitar karakter sejarah tersebut: misalnya menciptakan kekasih Diah Pitaloka dalam Satria Gunung Kidul. Dengan cara ini, Kho Ping Hoo sesungguhnya melihat sejarah sebagai momen raja-raja. Sejarah adalah perubahan-perubahan yang terjadi di dalam istana. Dalam hal ini barangkali bisa disamakan dengan tradisi kisah samurai dalam sastra Jepang, yang pada akhirnya seorang samurai selalu dilihat sebagai kalangan dari strata atas atau dengan kata lain "istana" meskipun kadang samurai-samurai ini ditampilkan sebagai pengembara dan ronin miskin (lihat misalnya film-film Akira Kurosawa mengenai hal ini atau Mushashi karya Eiji Yosikawa). Dalam Banjir Darah di Borobudur, mengenai persoalan agama ini, ia memberi komentar umum mengenai karakteristiknya di Jawa: Betapapun besar dan hebat pengaruh agama-agama dan kebudayaan dari luar ini, namun tak dapat menghilangkan ciri-ciri yang khas pada bangsa pribumi, tak dapat melebur sama sekali kepribadian aseli daripada penduduk Pulau Jawa. Menurutnya, itulah alasan mengapa agama Buddha dan Hindu di masa itu bisa hidup damai di Jawa yang telah mengadopsi "sehingga cocok dan enak bagi selera sendiri", berbeda dari keadaan di tempat asalnya (maksudnya India), di mana telah dijadikan alasan untuk menyulut banyak pertikaian. Saya tak berpretensi membuat penilaian mengenai akurasi sejarah dalam novel-novel Kho Pong Hoo di sini, melainkan lebih ingin melihat bagaimana latar sejarah dan karakter cerita silat bersimbiosis di dalam karya-karyanya. Hubungan keduanya sangat khas; dan menilik kecenderungannya di dalam karya-karya Kho Ping Hoo, barangkali bisa menjadi jalan untuk melihat hal serupa di dalam genre ini secara umum. Hal terakhir yang ingin saya kemukakan dalam telaah ini adalah satu stereotip yang membuat sejarah dan cerita silat bersimbiosis erat, terutama dalam karya-karya Kho Ping Hoo: bahwa cerita silat berarti kisah yang terjadi di masa lalu.
Diterbitkan di: 18 Oktober, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.