Sejarah dalam Cerita Silat Kho Ping Hoo
Summary rating: 2 stars
1 Tinjauan
Kunjungan:
391
kata:
600
Diterbitkan di: Oktober 18, 2007
"Raja yang memerintah di kerajaan Pajajaran (Pasundan)
yang beribukota di Pakuan adalah Sri Baduga Maharaja yang disebut juga
Ratu Dewata. Dari beberapa novel yang saya pilih, yang secara
khusus semuanya berlatar Nusantara karena Kho Ping Hoo juga dikenal,
malah lebih dikenal, sebagai penulis novel silat berlatar Tiongkok,
semuanya berlatar kurun tertentu sejarah yang dideskripsikan dengan
terang.
Ini termasuk kategori penulis yang mencoba mengukuhkan
keyakinan sejarah tertentu maupun para penulis yang mencoba memberi
pemaknaan baru terhadapnya. Novel-novel sejarah Pramoedya Ananta Toer bisa dimasukkan ke kategori ini.
Kedua, sejarah dipergunakan untuk memperkuat unsur-unsur fiktif di dalam karya. Sejarah tidak menjadi elemen penting di sini meskipun ia mengambil porsi yang sangat signifikan.
Dalam Serat Manikmaya, misalnya, dikisahkan bahwa raja-raja Jawa
merupakan keturunan dari Parikesit, melantur terus hingga muncul sosok
Ajisaka, yang ternyata salah satu sahabat Nabi Muhammad yang membelot.
Di dalam novel yang menjadikan sejarah sebagai
pembahasan utama, tak terhindarkan munculnya anasir fiktif yang pada
gilirannya akan diperkukuh keberadaannya melalui fakta-fakta sejarah. Dalam karya-karya klasik, baik dalam sejarah sastra
Nusantara maupun tempat lain di dunia, sejarah telah merasuk dengan
berbagai fungsinya.
Akan tetapi, sering kali kesatria ini pun memiliki
latar istana yang kuat dan pergi mengembara biasanya untuk menuntut
ilmu, bosan dengan kehidupan mewah, atau menjalankan tugas kekesatriaan
untuk menegakkan keadilan dan melawan kezaliman.
Peluang yang sama mungkin dengan menciptakan tokoh
Patih Anom (saya beri tekanan pula untuk kata anom) bernama Tejolaksono
di sebuah kerajaan serupa Panjalu dalam seri Sepasang Garuda Putih.
Seorang penulis mungkin akan menghadapi keterbatasan ketika berhadapan
dengan suatu karakter sejarah, tapi bisa sangat bebas menciptakan
karakter baru di sekitar karakter sejarah tersebut: misalnya
menciptakan kekasih Diah Pitaloka dalam Satria Gunung Kidul.
Dengan cara ini, Kho Ping Hoo sesungguhnya melihat sejarah sebagai momen raja-raja. Sejarah adalah perubahan-perubahan yang terjadi di dalam istana.
Dalam hal ini barangkali bisa disamakan dengan tradisi
kisah samurai dalam sastra Jepang, yang pada akhirnya seorang samurai
selalu dilihat sebagai kalangan dari strata atas atau dengan kata lain
"istana" meskipun kadang samurai-samurai ini ditampilkan sebagai
pengembara dan ronin miskin (lihat misalnya film-film Akira Kurosawa
mengenai hal ini atau Mushashi karya Eiji Yosikawa).
Dalam Banjir Darah di Borobudur, mengenai persoalan
agama ini, ia memberi komentar umum mengenai karakteristiknya di Jawa:
Betapapun besar dan hebat pengaruh agama-agama dan kebudayaan dari luar
ini, namun tak dapat menghilangkan ciri-ciri yang khas pada bangsa
pribumi, tak dapat melebur sama sekali kepribadian aseli daripada
penduduk Pulau Jawa.
Menurutnya, itulah alasan mengapa agama Buddha dan Hindu di masa itu
bisa hidup damai di Jawa yang telah mengadopsi "sehingga cocok dan enak
bagi selera sendiri", berbeda dari keadaan di tempat asalnya (maksudnya
India), di mana telah dijadikan alasan untuk menyulut banyak pertikaian.
Saya tak berpretensi membuat penilaian mengenai akurasi sejarah dalam
novel-novel Kho Pong Hoo di sini, melainkan lebih ingin melihat
bagaimana latar sejarah dan karakter cerita silat bersimbiosis di dalam
karya-karyanya. Hubungan keduanya sangat khas;
dan menilik kecenderungannya di dalam karya-karya Kho Ping Hoo,
barangkali bisa menjadi jalan untuk melihat hal serupa di dalam genre
ini secara umum.
Hal terakhir yang ingin saya kemukakan dalam telaah ini adalah satu
stereotip yang membuat sejarah dan cerita silat bersimbiosis erat,
terutama dalam karya-karya Kho Ping Hoo: bahwa cerita silat berarti
kisah yang terjadi di masa lalu.