Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (1) HR Bandaharo – Penyair Besar Indonesia
Oleh: A.Kohar Ibrahim “Manusialah yang barangkali tidak berbahagia, namun berbahagialah seniman yang dimamah oleh rindu” (Baudelaire)
BARIS kata-kata penyair Perancis Abad XIX yang dijuluki sebagai salah seorang pelopor Romantisme sekaligus puisi modern Perancis, disitir oleh seorang penyair tenar di zaman Sukarno, untuk mengawali Kata Pengantar yang ditulisnya untuk kumpulan puisi 3 Zaman. Yakni: HR Bandaharo alias Banda Harahap. Kupuisi (kumpulan puisi) yang dimaksudkan adalah “Sepuluh Sanjak Berkisah”, terbitan Yayasan SKBSI dan yang dicetak ulang oleh penerbit “World Citizen Press” Amsterdam,
dengan pendaftaran resmi ISBN: 90-72669-01-0. 1987.
Dalam penerbitan cetak ulang yang dieditori oleh saya sendiri itu pun baris-baris kata puitis penyair Baudelaire tersajikan, seperti tersajikannya secara utuh kata pengantar dari Adam Lipsia. Dengan penegas-jelasan, bahwasanya pada saat penerbitan pertama itu penyair HR Bandaharo masih hidup, dan penerbitan kumpulan puisinya itu, dalam rangka sekedar turut memberi tanda akan ulang-tahunnya yang ke-70. “Sepuluh Sanjak Berkisah”, tulis saya, adalah sekedar “echantillon” dari aktivitas-kreativitas seorang penyair rakyat Indonesia yang mendapat perhatian penting dari Indonesianis tenar Perancis: Henri Chambert-Loir. Dengan, antara lain menunjukkan, bahwa “un long poème, Sarinah et moi, qui est certainement son chef d’oeuvre, a été traduit par L.C. Damais in Cent-deux poèmes indonésiens. » (Sastra, Cahier d’Archipel 11.1980 hlm 161). Iya. Mengingat situasi-kondisi obyektif yang
kita hadapi ketika itu, semasa jaya-jayanya zaman Orde Baru yang melakukan pemberangusan secara sewenang-wenang atas kaum seniman, pengarang dan penyair macam HR Bandaharo, betapapun sederhananya penerbitan yang dihasilkan itu, sudah selayaknya disyukuri. « Meski kita punya impian – dalam rangka ultahnya itu adalah lebih patut seandainya diterbitkan sebuah antologi puisi yang betul-betul mewakili kepenyairannya selama setengah abad ». « Apa boleh buat, » tulis saya meneruskan. Bahwa sampai detik itupun kita belum bisa mewujudkan impian tersebut. Baru sekedar dalam usaha untuk lebih meluaskan terbitan pertama itu. Dalam hubungan ini, mimpi bukan saja boleh… Iya. Saya memang sengaja menggaris-bawahi soal mimpi dalam kaitannya dengan hidup dan kehidup-matian manusia, apalagi sang penyair, yang tergolong penyair romantis macam Hugo, Rimbaud dan Baudelaire itu ! « Kita mesti mimpi », tulis saya, hanya penegasan semata persetujuan saya akan ujar kata tertulis V. Oulianov sembari menyitir Pissarev akan bagaimana makna-memaknai saling-hubungan impian dengan kenyataan. « Lagi pula, apalah artinya kehidupan itu tanpa impian ? Tanpa adanya suatu cita-cita atau keyakinan dengan segala usaha demi pelaksanaan pencapaiannya ? Dalam artian ini, maka kita akan lebih memahami lagi baris-baris sajak Banda. Sebagaimana kita telah memahami pidatonya yang terakhir di depan para seniman. Hampir seperempat abad yang alu. Di depan Sidang Pleno Lembaga Senirrupa Indonesia. Maka jelaslah konsistensi Banda itu senantiasa menjelujuri kreasinya. Apapun yang telah terjadi. Karena memang, “Apakah yang dapat dimatikan dan dimusnahkan / Pada kepercayaan yang dalam tertanam” sebagai dinyatakan oleh penyair terkemuka Malaysia Usman Awang. Banda sendiri mengukuhkan keteguhannya selain dalam baris kata puitis “tak seorang berniat pulang / walau mati menanti”, juga pula baris-baris sajaknya berbunyi: musim dan tahun cepat melampau tiada terasa tiada terduga menjadi tua hanya mimpi yang tinggal tersisa sekalipun mengabur tetap memukau Dan dalam sajaknya berjudul “Elegi”, secara tegas dinyatakan: “tanpa cita-cita kau adalah musuh dirimu sendiri.” Musim berlalu, tulis saya selanjutnya pula dalam kata pengantar itu. Tahun berganti. Banda telah menjadi seorang penyair yang tua usia. Suatu ketika akan meninggalkan yang lebih muda dan yang muda-muda. Tetapi kreasinya akan abadi. Yang muda-muda, dengan segala impiannya pun akan terus bermunculan. Seperti lidah-lidah api. Seperti burung Feng Huang. Maka terjadilah apa yang sudah semestinya terjadi. Benar saja, sekian tahun kemudian, sang penyair kelahiran Medan, Mai 1917, itu meninggal dunia pada tanggal 1 April 1993. Di Ibukota Republik Indonesia, Jakarta. Dalam keadaan miskin dan papa. Naskah-naskah berupa bloknota memoir ini saya susun, dalam rangka mengenang 90-Tahun (Oktober 1917-2007) HR Bandaharo Penyair Besar Indonesia Yang Takkan Pernah Terlupakan. *** B, 17 Oktober 2007.
Ringkasan lain tentang Hidup Mati Penyair Dan Puisinya (1) - HR Bandaharo