Puisi Perancis-Indonesia (10) : L’Eternité – Keabadian - Arthur Rimbaud Oleh : A. Kohar Ibrahim
SAJAK Le Dormeur Du Val atau Yang Tertidur Di Lembah merupakan salah sebuah karya seni sastra dalam bentuk puisi, berupa sajak bebas, yang begitu mampu menggugah perasaan dan pikiran manusia. Karena apa yang diungkap-angkatnya tak lain tak bukan merupakan lagu manusia, kisah manusia
dengan segala kemanusiaannya di sejagad alam raya. Sesosok manusia yang mengalami ketragisan hidup dalam perjalanan kehidupannya – tewas ditembus peluru. Lepas dari apa-siapanya, Sang Penyair Besar Rimbaud telah mengungkap-angkatnya sebagai sesama sosok manusia – dengan muatan perikemanusiaannya yang luarbiasa ! Dan memang di situlah letak makna pentingya. Selain karena kebaruan dalam penampilan bentuk dan gaya juga kekayaan dan kedalaman isinya. Rupanya, kekayaan pengalaman hidupnya, keluasan pandangannya, merupakan andalan daya kreativitas seninya. Dalam penghayatan mana, Sang Penyair menemukan dinamika kehidupan yang dialektis, seraya membuktikan diri akan keterlibatannya -- sebagai makhluk yang mendambakan kebebas-merdekaan dan cintakasih. Seperti yang diungkapkannya dalam sajaknya berjudul “L’Eternité” – Keabadian – di bawah ini:
L’Eternité Elle est retrouvée. Quoi? – L’Eternité. C’est la mer allée Avec le soleil. Ame sentinelle, Murmurons l’aveu De la nuit si nulle Et du jour en feu. Des humains suffrages, Des communs élans Là tu te dégages Et voles selon. Puisque de vous seules, Braises de satin, Le Devoir s’exhale Sans qu’on dise : enfin. Là pas d’espérance, Le supplice est sûr. Elle est retrouvée. Quoi ? – L’Eternité. C’est la mer allée Avec le soleil. *
Keabadian Ditemukannya kembali Apa ? Keabadian Adalah pasang surut lautan Bersama matahari. Jiwa penjaga, Bisikan pengakuan Malam sunyi sepi Hingar bingar siang hari. Dari hasrat kemauan manusia, Elan yang sama, Di sana lah kau beranjak pergi: Aataukah mengangkasa. Tergantung dirimu sendiri belaka Bara menyala, Tugas kewajiban terlaksana Tanpa orang bilang : akhirnya. Ditemukannya kembali Apa ? Keabadian. Adalah pasang surut lautan Bersama matahari
. (Arthur Rimbaud: L’Eternité - Keabadian) DENGAN ini, kami sudahi dulu, Rangkuman Pertama dari perkenalan sekaligus sajian untuk mencicipi seni puisi Perancis. Dengan Tiga Pendekarnya: Hugo, Baudelaire dan Rimbaud. Semuanya dapat dilacak simak dalam sejumlah buku dan bahan referensi mengenai perpuisian Perancis. Terutama sekali dalam buku-buku seperti : «Les Fleurs du Mal &
raquo;, Charles Baudelaire, edisi Panthéon, Paris 1947. « La Joie de Lire », M. Govaert, edisi De Sikkel, Anvers 1950. « Le Livre d’Or de la Poèsie Française », N° 61/41. P. Segher, Marabout Université, Paris. « Poèmes Français », Y. Syraux, edisi De Boeck-Wesmael, Bruxelles 1986. « Proscrits Exilés Ecrivains Etrangers en Belgique », Aime Bernaerts, edisi Paul Legrain, Bruxelles 1980. Naskah ini semula disajikan dengan tujuan supaya bisalah dijadikan bahan pertimbangan mengenai bagaimana suasana keberadaan aktivitas dan kreativitas para pujangga mancanegara yang sezaman dengan keberadaan kehidupan kesusastraan di Indonesia, istimewa sekali di Kepulauan Riau. Dengan figur utamanya pujangga Raja Ali Haji yang oleh budayawan Kepri dianggap sebagai pucuk puncaknya. Dan semula, di siar secara keseluruhan sebagai esai sastra berjudul « Tiga Pendekar Pusi Perancis » oleh Majalah Budaya Duabelas edisi Dewan Kesenian Kepri. Lalu saya susun kembali menjadi sebagian dari serial «cakas » (catatan ringkas) « Puisi Perancis-Indonesia » (maksudnya : Puisi Perancis yang saya sajikan bersama terjemahan ke dalam bahasa Indonesia). Catatan : A.Kohar Ibrahim – penulis dan pelukis tamatan Académie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles, Belgia. Berkas-berkas tulisannya berupa prosa dan puisi serta resensi tersebar-siarkan di beberapa media massa cetak dan elektronika. Juga yang diterbitkan dalam bentuk buku individual seperti « Sekitar Tempuling – Telaah Buku Kumpulan Puisi Tempuling Rida K Liamsi » edisi Yayasan Sagang Pekanbaru 2004 ; dan buku-buku kumpulan tulisan bersama, antara lain : « Di Negeri Orang », Kumpulan Puisi Penyair Indonesia Eksil, edisi Amanah Lontar, Jakarta 2002. « Tragedi Kemanusiaan 1965-2005 » edisi LSP-Malka Bandung 2005. « Identitas Budaya Kepulauan Riau », edisi Dewan Kesenian Riau, Tanjungpinang 2005. « Kepri Pulau Cinta Kasih » kumpulan esei bersama Lisya Anggraini, penerbit Yayasan Titik Cahaya Elka, Batam, 2006.