Puisi Perancis-Indonesia (9) :
Le dormeur du val – Yang Tertidur Di Lembah – Arthur Rimbaud
Oleh : A.Kohar Ibrahim
SEMANGAT dan gaya baru yang dibawakan oleh Rimbaud
dalam kreativitasnya begitu kuat dan cepat mempengaruhi para penyair pada zamannya. Sekalipun cepat dikenal dan terkenal, namun hasil karyanya itu tidak bisa mendatangkan penghasilan yang menjamin kebutuhan hidupnya sehari-hari -- tidak untuk keluarga pun tidak bagi dirinya sendiri.
Sebagaimana kebanyakan para penulis atau penyair lainnya, Arthur Rimbaud juga mesti melakukan kegiatan di luar dunia kesusastraan. Seperti memberi kursus bahasa Perancis dan bahkan masuk dinas dalam pasukan serdadu. Menjelajah Eropa, Afrika dan Asia hingga sampai ke Nusantara di bawah kibaran bendera Belanda. Di musim panas 1876. Dalam kesempatan mana bersama pasukannya dia berangkat dengan kapal layar
Prins van Oranye dari Nieuw Diep, melintasi terusan Suez sampai ke Padang. Dari sana kemudian mencapai Batavia (Jakarta) dan Semarang. Selanjutnya dengan jalan kaki bersama pasukannya di mencapai Salatiga. Namun dia hanya tahan selama beberapa bulan saja. Lantas kabur dan kembali ke Eropa dengan menumpang kapal layar
Wandering Chief yang berbendera Ekosia.
Rimbaud memang punya pengalaman dalam kehidupan pasukan bersenjata, baik sebagai seseorang yang pernah menyatu dalam barisan Revolusi Perancis maupun dalam pasukan serdadu rekrutan kolonial. Baik secara kebetulan saja maupun secara terpaksa oleh keadaan maupun terdorong oleh hasrat keinginan untuk memperkaya pengalaman hidupnya. Dalam kaitan ini, ada karyanya yang terkenal, seperti di bawah ini :
Le dormeur du val C’est un trou de verdure où chante une rivière,
Accrochant follement aux herbes des haillons
D’argent ; où le soleil, de la montagne fière,
Luit : c’est un petit val qui mousse de rayons.
Un soldat jeune, bouche ouverte, tête nue,
Et la nuque baignant dans le frais cresson bleu,
Dort ; il est étendu dans l’herbe, sous la nue,
Pâle dans son lit vert où la lumière pleut.
Les pieds dans les glaïeuls, il dort. Souriant comme
Sourirait un enfant malade, il fait un somme :
Nature, berce-le chaudement : il a froid.
Les parfums ne font pas frissonner sa narine ;
Il dort dans le soleil, la main sur sa poitrine,
Tranquille. Il a deux trous rouges au côté droit.
*
Yang Tertidur Di Lembah Adalah sebuah lubang di hamparan hijau di mana sebatang kali bernyanyi
Berpeluk seerat-eratnya pada rangkum rerumputan jerami
Keemas-emasan, di mana mentari, di atas gunung megah,
Bersinar : adalah sebuah lembah yang membiaskan sinar.
Sorang serdadu muda, mulut ternganga, telanjang kepala
Dan tengkuk tenggelam dalam jerembak biru segar,
Tertidur : dia terlentang di atas rerumputan, bernaung mega,
Pucat pasi di atas ranjang hijaunya bermandikan sinar.
Kedua belah kaki di antara rerumputan, dia tertidur. Senyum seperti
Senyuman bocah menderita sakit, dia terlena.
Alam, dekaplah dia erat hangat : dia lagi kedinginan !
Harum wangi-wangian tak mengusik hidungnya ;
Dia tertidur bersimbah cahya mentari, tapak tangan di atas dada
Diam tenang. Dua lubang merah menembus iga kanannya.
Betapa pengungkapan gaya romantisme dengan muatan yang tragidramatis dalam sajak itu! La dormeur du val tersebut, seperti halnya yang berjudul Bateau Ivre (
Perahu Mabuk), sangat populer, termasuk di kalangan anak-anak, kerna merupakan bahan bacaan di sekolah-sekolah. Selain sebagai bahan bacaan, juga deklamasi dan bahan pementasan lainnya. (Akibr) ***
Ringkasan lain tentang Puisi Perancis-Indonesia (9): Le Dormeur Du Val Arthur Rimbaud