• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Cendekiawan Jerman dalam Kebudayaan Indonesia

.

Cendekiawan Jerman dalam Kebudayaan Indonesia

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : Daniel Dhakidae
Yang pertama adalah Johann Wolfgang von Goethe, tidak
pernah memijakkan kakinya di Indonesia, sedangkan yang kedua,
Emil
Nolde, pelukis yang mengunjungi Papua, Ambon, Celebes (Sulawesi), dan
Surakarta.  Kesulitan melacak data tua yang sering sudah hilang
ditelan zaman, dan dalam hal Indonesia hilang digusur kebijakan
negara-seperti hilangnya Gedung Harmoni di Jakarta dan beberapa tempat
lain seperti di Garut-tidak mematahkan semangat Siebert untuk menyusuri
tempat-tempat tersebut demi bukunya.Kriteria yang diberikan adalah perjumpaan intelektual
antara tokoh-tokoh Jerman dan Indonesia, dan perjumpaan intelektual
tokoh-tokoh Indonesia dengan kehidupan intelektual Jerman, deutsche
Geisteswelt. Buku kedua memberikan tekanan pada orang-orang Jerman
yang pernah memijakkan kakinya di Nusantara untuk berbagai keperluan
dan sebagaimana ditemukan dalam sepuluh tokoh bukan untuk keperluan
kecil, namun keperluan besar yang menentukan hidup dan hakikat hidup
para tokoh itu sendiri maupun Nusantara. Namun, di pihak lain beberapa kejutan diberikan justru
pada tokoh yang sudah dikenal, seperti Gustav Wilhem Baron von Imhoff,
Gubernur Jenderal VOC, yang dalam buku-buku sejarah di sekolah menengah
dan perguruan tinggi diperkenalkan kepada siswa dan mahasiswa sebagai
orang Belanda-tentu saja tidak mengherankan karena dia sendiri mengubah
namanya dari von Imhoff, Jerman, menjadi van Imhoff, Belanda.
Atau seorang akan dikejutkan oleh tokoh seperti Max Dauthendey,
sastrawan yang hampir tidak pernah didengar namanya di kalangan sejarah
sastra Indonesia, namun memegang peran yang tidak kecil, dengan caranya
sendiri, memperkenalkan Nusantara in der deutschen Geisteswelt; atau lagi seorang niagawan seperti Emil Helfferich.Di dalam rombongan tersebut ada seorang Jerman yang
bernama Balthasar Sprenger, agen kamar dagang, das Handelshaus der
Welser dari Augsburg, yang tiga tahun berselang, 1599-dalam buku
terjadi salah cetak dan tertulis 1509, (Seemann, von Goethe hal:
8)-menulis laporan perjalanan dengan beberapa judul seperti
Ostindianische Reisen und Kriegsdienste (Pelayaran Hindia Timur dan
Dinas dalam Angkatan Perang), Neue ost-indianische Reisebeschreibung
(Catatan Baru tentang Perjalanan ke Hindia Timur), Journal unserer
Reise in Dienst der Vereignigten geoctroyrten Niederländischen
Ostindianischen Compagnie (Catatan Perjalanan Kami dalam Pelayanan bagi
VOC Pemegang hak Oktroi), untuk menyebut beberapa judul.
Dalam dua surat kepada sahabatnya, Carl Friedrich
Zelter, di Batavia dia mengkritik pola pembangunan Kota Batavia yang
dikerjakan Belanda menurut pola Eropa, Belanda, yang katanya, sama
sekali tidak cocok dengan keadaan di wilayah tropik. Namun, dalam hal Brecht satu-satunya andalan adalah
nama besarnya dibandingkan dengan apa yang dibuat bagi Nusantara,
meskipun lagu "Surabaya-Johnny" yang digubah Brecht dan sangat terkenal
di Eropa. Brecht, dramawan dan penyair yang
sangat serius, dalam buku Heinrich Seemann, hanya menjadi selingan
ringan dengan lagunya yang dikutip lengkap dalam buku, dan di sini
hanya dikutip refrainnya:
Surabaya-Johnny, warum bist du so roh?Dalam perjalanan kembali ke Batavia dia justru
berpapasan dengan kapal yang ditumpangi Valckenier yang lantas
ditangkapnya dan dibawa kembali ke Batavia dan diadili. Van Imhoff diberikan tugas untuk memperbaharui VOC, membasmi korupsi. (Siebert, Deutsche Spuren, hal: 21-44)
Nusantara dan kaum pekerja budaya
Kelompok ketiga adalah mereka yang berpikir dan berdiam di Indonesia, antara lain Max Dauthendey, Emil Nolde, dan Walter Spies.
Sebagian besar masyarakat seni dan masyarakat pada umumnya mengenal
Walter Spies karena perannya dalam memperkenalkan kesenian Bali.
Namun, tidak banyak yang tahu bahwa Walter Spies yang lahir di Moskwa
berasal dari gabungan dari pihak ayah yang industrialis dan ibu dari
keturunan bangsawan. Buku Heinrich Seemann dan Rüdiger Siebert memberi
sumbangan sangat berharga untuk mengangkat kembali hubungan dua bangsa
dalam bidang yang sangat halus seperti kebudayaan yang didukung oleh
bakat-bakat terbaik bangsa Jerman.
Diterbitkan di: Oktober 14, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Komentar

Showing 2 out of 2   Tambahkan komentar Anda
  1. 0 Tinjauan 22 Februari 2008
    1

    faiz

    mencari subjek

    mak naih, gue butuh tulisan ini..makasih ye mak naih...tapi kok terlalu ringkas mak naih? terimakasih semoga hari-harinya mak naih menyenangkan

  2. 0 Tinjauan 22 Februari 2008
    2

    faiz

    mencari subjek

    mak naih, gue butuh tulisan ini..makasih ye mak naih...tapi kok terlalu ringkas mak naih? terimakasih semoga hari-harinya mak naih menyenangkan

Bookmark & share this post

.