Puisi Perancis-Indonesia (7) :
Antara Gipsy Kings & Boheme Arthur Rimbaud
Oleh : A.Kohar Ibrahim
USAI masa ketenangan sebulan Ramadan, di hari malam pertama aku sedang melirik simak Arthur Rimbaud,
dengan « Ma Boheme » seketika pula telinga menangkap nada irama begitu menggugah Gipsy Kings, sajian tetangga Sylvia France. Maka tak ayal gugahan nada irama Gipsy Kings dengan « Djobi Djoba » dan « Bambole Volaria » serta « Habibi »nya
itu menambah gairah.
Apakah gerak daya tarik-menarik yang nampaknya seketika dan spontan itu semata-mata lantaran kami – aku, Rimbau dan kaum Gipsy -- secara hakiki memiliki kesamaan pengalaman sebagai « kaum bohemian » alias kaum « pengelana » buana ?
Baiklah. Tapi untuk kali ini fokus kita batasi kepada sang « gipsy » penyair Rimbaud. Iya, seperti pernah saya utarakan dan ingin saya ulang-bilang dengan menggaris-bawahinya. Betapalah peranan yang menggelitik hati dan pikiran penggubah « Le Bateau Ivre » dan « Ma Boheme » itu !
Rimbaud adalah « penyair yang menjagad dunia, » tulis saya. « Bukan semata-mata
dalam kreativitasnya melainkan juga lantaran aktivitasnya sebagai manusia pengelana yang tak pernah lelah. Sebagai penjelajah beberapa benua -- dari Barat sampai ke Timur. Bahkan hingga ke Nusantara – Sumatera dan Jawa.
Penyair kelahiran Charleville Perancis 20 Oktober 1884 itu memiliki daya kreativitas yang luarbiasa dan berani membuat kejutan-kejutan yang mempertandakan keberbedaan kehadirannya dari pada penyair pendahulunya. Berani dalam pengungkapan kebaruan isi sekaligus juga bentuk artistiknya. Berani dalam pernyataan citra seni dan kesenimanannya sekalian juga berani dalam menghayati perjalanan hidupnya yang sampai begitu jauh ditempuhnya. Dengan segala suka-duka, manis-pahit dan asam-garamnya. Hal mana tercermin dalam kreativitas seninya, terutama sekali dalam kreasi puisinya yang tergolong
engage, bahkan sarat akan muatan yang subversif.
Memang iya. Saya terkesimak Arthur Rimbaud pertama-tama ketika menyimak namanya dalam deretan panjang kaum budayawan, ahli pikir, seniman, sastrawan dan penyair
proscrits atau eksilan di Brussel. Suatu periode yang cukup menarik dari kehidupannya. Kemudian, ketika menyimak sejumlah referensi sekitar peringatan ke-seratus wafatnya, tahun 1991. Kesempatan mana mendorong saya mengedit edisi
Kreasi nomor 9 tahun itu dengan menampilkan Arthur Rimbaud, di samping Chairil Anwar dan Agam Wispi serta yang lainnya. Dan sepuluh tahun kemudian, ketika ada kesempatan kembali menyiarkan tulisan di media massa Indonesia, pernah ada catatan saya yang berkenaan dengan Rimbaud.
Selanjutnya, 15 tahun kemudian, Rimbaud saya tampilkan sebagai salah seorang dari Trio Pendekar Puisi Perancis Abad XIX dalam makalah untuk Majalah Budaya Duabelas edisi Dewan Kesenian Kepri – nomor Februari 2006. Dan kini, saya upayakan untuk merangkumnya dalam serial bloknota “Puisi Perancis-Indonesia ». Dengan cicipan sebaris baris kata puitis “Ma Boheme”nya:
Je m’en allais, les poins dans mes poches crevées; Mon paletot aussi devenait idéal ; J’allais sous le ciel, Muse ! et j’étais ton féal ; Oh ! là ! là ! que d’amours splendides j’ai rêvées ! Aku pergi, kedua kepalan dalam kantong bolong ; Jaspanjang kumal ku pun menjadi ideal ; Ku telusuri kolong langit, Muse ! padahal aku ‘lah abdimu ; Duh! Sungguh! Yang ku impikan cuma cinta nan indah semata! Ketika menutup halaman antalogi „Le Livre d’Or de la Poésie française“ yang berisi „Ma Boheme“, nada irama Gipsy Kings masih terus berkumandang. Layaknya menjaga hati dan pikiranku riang. Menjaga semangat bergiat. „Ku ingin seperti mereka – menelusuri jalan kehidupan penuh dinamika, baik dalam duka maupun suka,“ bisikku dalam hati. (Akibr). ***
Ringkasan lain tentang Puisi Perancis-Indonesia (7): Rimbaud Ma Boheme & Gipsy Kings