"
TRADISI lisan tidak sekadar penuturan, melainkan
konsep pewarisan
sebuah budaya dan bagian diri kita sendiri sebagai
makhluk sosial." Bagi pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Indonesia
itu, tradisi lisan lebih jauh memiliki arti penting
dalam pelestarian budaya nusantara. Dari kecintaannya
terhadap tradisi lisan, Pudentia Maria Purenti Sri Suniarti-demikian
nama lengkapnya-berupaya mengumpulkan dan merekatkan kembali
keping-keping warisan tradisi nusantara.
Suatu upaya untuk membunyikan kembali suara-suara tradisi yang sering kali terabaikan di tengah gemuruh teknologi mutakhir.
Setelah bertahun-tahun menggeluti dunia yang berkaitan dengan
keberadaan suatu tradisi, ia melihat bahwa penyebab tenggelamnya sebuah
tradisi atau kebudayaan lebih dipicu oleh adanya anggapan bahwa tradisi
adalah sesuatu yang kuno atau bagian dari masa lalu.Penyebab lainnya, yang juga tak kalah penting, adalah
kesenjangan apresiasi antara masyarakat dan cipta seni itu atau
pihak-pihak yang ingin mematikan budaya tersebut. Fungsi estetika yang tidak lagi mengakomodasi kepentingan sekarang dapat juga mematikan sebuah tradisi.
Oleh karena itu, kata Pudentia, revitalisasi suatu kebudayaan perlu dilakukan kalau kita tidak ingin kebudayaan itu akan mati. Dia mencontohkan, di Nias ada bahasa yang hanya digunakan oleh 50 orang dan terancam hilang. Sebagai lembaga nirlaba, ATL-yang didirikan Pudentia
tahun 1996-melaksanakan berbagai kegiatan, seperti seminar, pelatihan
peneliti muda, penelitian-penelitian dari berbagai bidang yang
berkaitan dengan tradisi lisan, dan pemasyarakatan tradisi lisan dalam
dunia pendidikan.Di Kantor ATL yang terletak di Menteng Wadas, Jakarta,
tertata ratusan hasil penelitian mengenai mitos, cerita daerah,
kesenian tradisional, bahasa, kajian etnografi, dan komunikasi yang
didokumentasikan lembaga tersebut.Dalam hubungan antarmanusia, kecairan sebuah kebudayaan sesungguhnya
diwakili dalam kelisanan yang mengakomodasi nilai-nilai masyarakat
secara konkret. Akan tetapi, di atas segalanya, budaya
lisan juga memiliki resistensi terhadap hegemoni dan kerutinan yang
jauh berbeda dengan dunia teks.
Ringkasan lain tentang Pudentia, Mengumpulkan Kepingan Tradisi Lisan