Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Mengenang Satu Tahun Wafatnya Prof Bagus, Bapak Antropologi Bali

.

Mengenang Satu Tahun Wafatnya Prof Bagus, Bapak Antropologi Bali

Summary rating: 2 stars 1 Tinjauan
Pengarang : COKORDA YUDISTIRA
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 134  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 13, 2007
Tidak hanya para akademisi dan budayawan koleganya di
Bali, tetapi juga para antropolog dan budayawan asing yang berada di
belahan bumi yang lain.
Kongres Bahasa Indonesia yang sedang berlangsung di Jakarta saat itu
sempat dihentikan sejenak demi memberikan penghormatan dan doa setelah
Prof Dr I Wayan Bawa mengabarkan kepergian Prof Bagus.Di antaranya, Mark dan Angela Hobart dari University
of London Inggris, Philip McKean dan Hildred Geertz dari Amerika
Serikat, Carol Warren dari Murdoch University di Australia dan Adrian
Vickers dari University of Wollongong, Australia.

Prof Bagus lahir dari keluarga bangsawan, di Puri Peguyangan, Denpasar, 12 Juli 1933.
Prof Bagus beristrikan Dra Made Sulatri Apt, dan memiliki tiga anak, I
Gusti Ayu Praharsini SpKK, Ir I Gusti Ngurah Diksita MM Tp, dan Ir I
Gusti Ngurah Nitya Santiarsa MT.

Seusai menempuh program pascasarjana di Jurusan
Linguistik Umum dan Nusantara di Universitas Leiden Belanda, Prof Bagus
menekuni kebudayaan dengan menempuh program doktor di Jurusan
Antropologi Universitas Indonesia Jakarta (1979).
Dalam tulisan bertajuk "In Memoriam Prof Dr I Gusti Ngurah Bagus"
(Kompas, 19 Oktober 2003), dosen Jurusan Sastra Indonesia Universitas
Udayana, I Nyoman Dharma Putra mengungkapkan, meskipun Prof Bagus
akhirnya lebih dikenal sebagai guru besar antropologi, kompetensinya di
bidang sastra dan linguistik ikut memperkokoh sosoknya sebagai
intelektual multidisiplin.Demikian dasar sikap pikir Prof Bagus bahwa manusia
(Bali) dan kebudayaan Bali harus menjadi subyek aktif dalam perubahan,
bukan sekadar menjadi tontonan.

Berangkat dari konsepsi tersebut, demi melahirkan
generasi Bali Baru-atau menurut istilah Prof Bagus, pasca-
Bali-diperlukan "loncatan kuantum" melalui program konseptual yang
mengandung warna kesinambungan dan perubahan sekaligus.

"Perpustakaan berjalan." Demikian kesan dan kenangan para kolega dan mantan anak didiknya di Fakultas Sastra Universitas Udayana hingga kini.
Dengan referensi kepustakaan dan materi penelitian yang dimilikinya,
Prof Bagus tidak hanya melanglang di dunia antropologi, tetapi juga
berkembang di bidang sastra.Senada dengan tulisan Dharma Putra di Kompas, Geriya
juga mengungkapkan, almarhum Prof Bagus bukan hanya pemikir dan
peneliti yang kritis tentang kebudayaan Bali, tetapi juga aktif sebagai
pembina sastra dan kebudayaan di Bali.Kegelisahan Prof Bagus tentang kebudayaan Bali dan perubahan masyarakat Bali dituangkannya dalam karya-karya tulis dan buku. Mulai dari isu pariwisata, kebudayaan, dan sastra sampai masalah agama.
Selain aktif menulis dan berbicara, almarhum juga gencar terlibat dan
membentuk organisasi dan yayasan, dengan satu tujuan, mencerdaskan
masyarakat Bali sehingga mampu menyadari perubahan yang sedang terjadi
atas diri mereka.
Sementara itu, di lingkungan akademis, Prof Bagus mendirikan "rumah
ilmiah" berupa Program Studi Magister Kajian Budaya (1996) dan Program
Doktor Kajian Budaya (2001) di Universitas Udayana.

Langkah almarhum ini dinilai telah melahirkan kajian
budaya (cultural studies) mazhab Bali yang dapat disandingkan dengan
kajian budaya mazhab lain, yang telah tumbuh dan berkembang di dunia
sejak tahun 1960-an.

Ringkasan lain tentang Mengenang Satu Tahun Wafatnya Prof Bagus, Bapak Antropologi Bali
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------