Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sastra Lisan Kurang Perhatian

Sastra Lisan Kurang Perhatian

oleh: NasrulAzwar     Pengarang : Kompas
ª
 
Sastra lisan sebagai warisan budaya nusantara makin kurang mendapat perhatian lantaran kurangnya penggalakan kepada generasi penerus. Akibatnya, generasi penerus lebih mengenal budaya pop ketimbang budaya tradisional, padahal sastra lisan banyak mengandung kearifan lokal. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Direktur Jenderal Nilai Budaya dan Seni Sutrisno, Kamis (24/8) di sela-sela acara Festival Perkusi Tradisi Lisan dan Dialog Budaya Sumut di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.Sutrisno mengatakan, upaya untuk menggalakkan seni tradisional bisa dilakukan mulai dari lingkungan terkecil seperti keluarga. Upaya tersebut, dapat dilakukan antara lain dengan memberi penghargaan kepada anak saat mengenali seni tradisional.Sutrisno mengatakan, seni tradisional bisa mengenalkan anak akan etika, estetika, dan budi pekerti. Festival semacam tradisi lisan, perkusi, dan dialog budaya itu perlu terus dilakukan. "Kami harapkan, dengan kegiatan ini masyarakat bisa memahami keanekaragaman budaya tradisional Indonesia," tutur dia. Sumatera sendiri UPT kebudayaan tersebar di Banda Aceh, Padang, dan Tanjung Pinang. Senada dengan Sutrisno, Kepala BKSNT Banda Aceh Wilayah Kerja Aceh dan Sumut, Shabri A mengatakan, salah satu penyebab kurangnya perhatian itu karena sektor pelestarian budaya bukan sektor menguntungkan. Anggapan itu salah, karena pelestarian budaya termasuk sastra lisan bisa menambah ketertarikan wisatawan datang ke Indonesia. Shabri mengatakan, festival tersebut bertujuan untuk merangsang dan memberi motivasi pihak lain menyelenggarakan acara serupa. Penyelenggaraan acara seperti itu, perlu mendapat dukungan dari instansi lain seperti museum, dinas pariwisata dan kebudayaan, serta lembaga-lembaga kebudayaan lain. Festival yang berlangsung di Labolatorium Pariwisata itu menampilkan Gondang Sembilan dari Tapanuli, dendang Melayu dan berbalas pantun, Barongsai dari China, Markobar dari Tapanuli, dan Kuda Lumping dari Jawa.
Diterbitkan di: 13 Oktober, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.