• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sejarah Pers Sumbar Dialih Orang Lalu

.

Sejarah Pers Sumbar Dialih Orang Lalu

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : Nasrul Azwar
HARIAN Jurnal Nasional yang terbit di Jakarta,
semenjak tanggal 1 Januari dan rencananya hingga 31 Desember 2007
setiap hari menerbitkan semacam kilas balik perjalanan sejarah pers
nasional. Dan dua kegiatan itu menjadi gong yang ditalu dengan
nyaring oleh hoofdredacteur-nya yang paling gemilang di kurun itu:
Raden Mas Tirto Adhi Surjo. Sepanjang pembacaan saya terhadap sejarah pers (dan
pers juga identik dengan penerbitan), dan juga hasil bacaan saya
terhadap disertasi Sudarmoko yang dipertahankannya di Universitas
Leiden, Belanda (2005) dan beberapa artikel Suryadi yang juga mengajar
di Universitas Leiden, mengesankan, semenjak abad-19, pertumbuhan surat
kabar dan dunia penerbitan di Minangkabau (Sumatra Barat) sangat
signifikans.Minangkabau memang merupakan kota pers tertua di Sumatra, dan termasuk kota Indonesia yang awal mengenal surat kabar. “Ketika di tempat lain di pulau ini orang baru
mengenal naskah (manuscript) beraksara Jawi yang berisi sastra pagan,
di Padang orang (Minangkabau) sudah membolak-balik halaman kertas lebar
bernama surat kabar yang berisi informasi dari luar dunia lokalnya,”
tulis Suryadi (lihat di http://www.ranah-minang.com).Dari catatan sejarah dan tarikh keberadaan dunia pers
di Sumatra Barat, tampaknya, kehadiran surat kabar Medan Prijaji (1907)
yang lahir di Bandung (Jawa Barat) masih muda dibanding surat-surat
kabar yang sudah terbit di Minangkabau sebelumnya. Dan kita tidak mengetahui pula, siapa atau lembaga apa
yang memutuskan dan melegetimasi satu abad pers di Indonesia ini
dimulai hitungan tahun 1907? Selanjutnya, di mana suara sejarahwan Sumatra Barat
yang jumlahnya tidak sedikit itu: Apa sesungguhnya yang terjadi di
negeri ini, sehingga fakta sejarah bisa saja diubah dan diklaim sesuka
hati?
Berteriaklah kita sekuat tenaga, bahwa pada
pertengahan abad-19 orang Minanglabau sudah baca koran, dan banyak
surat kabar yang terbit di sini, dan lain sebagainya, jelas tak ada
gunanya.
Para sejarahwan yang bertebaran di Unand dan UNP, dan di perguruan
tinggi di kota-kota lainnya, yang diharapkan bisa menjelaskan duduk
perkara fakta sejarah ini, tampaknya lebih tertarik menyelesaikan
proyek penelitiannya yang tidak akan pernah habis-habisnya.
Diterbitkan di: Oktober 13, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.