Umar Kayam adalah
nama yang sudah tidak asing lagi di Indonesia. Nama itu meniru nama Omar Khayam , seorang sufi,
filsuf, ahli perbintangan, ahli matematika, dan pujangga kenamaan asal
Persia yang hidup
pada abad ke-12. Dari Solo ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah atas (SMA) di Yogyakarta dan menamatkannya di SMA Semarang. Gelar professor diperolehnya dari UGM, tempat ia
mengabdikan ilmunya, pada
tahun 1986 dan dikukuhkan sebagai guru besar
Fakultas Sastra UGM pada tahun 1988.Ia pernah menjadi Direktur Jenderal Radio, Televisi,
dan Film, Departemen Penerangan, Republik Indonesia (Dirjen RTF) pada
tahun 1966--1969 , Rektor Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta pada
tahun 1968—1972, Ketua Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1969—1972,
Direktur Pusat Latihan Ilmu-ilmu Sosial, Universitas Hasanuddin, Ujung
Pandang (1975—1976), Direktur Pusat Penelitian Kebudayaan, UGM pada
tahun 1977, Ketua Dewan Film Nasional pada tahun 1978—1979, Ketua
Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) pada tahun 1988, dan anggota
Akademi Jakarta pada tahun 1988. Ia menikahi gadis Minang yang bernama Roosliana Hanoum pada tanggal 1 Mei 1959 di Medan.Begitu pula dengan istrinya, yang akrab disapa dengan
nama kecilnya, Yus, tidak dipaksanya menjadi istri dan ibu yang harus
bekerja di rumah mengurusi rumah tangganya saja. Meski zaman telah dilanda komputerisasi, Profesor
doktor yang pernah menjabat sebagai guru besar di Universiatas Gajah
Mada itu enggan meninggalkan mesin ketik manualnya yang kalau dipakai
mengeluarkan suara yang dapat menagganggu orang di sekitarnya.
Ringkasan lain tentang Umar Kayam