Julukan yang disandang Radhar Panca Dahana sangatlah beragam. Ia dikenal
sebagai esais, sastrawan, kritikus sastra, dan jurnalis. Ia pun bergiat sebagai pekerja dan pengamat teater.
Puluhan esai, kritik, karya jurnalis, kumpulan puisi, naskah drama,
pertunjukan teater, dan beberapa buku tentang
teater telah
dihasilkannya.Nama Radhar merupakan akromim
dari nama kedua
orang tuanya: Radsomo dan Suharti. Ia anak kelima dari tujuh bersau-dara yang seluruhnya juga punya nama depan Radhar.
Ayahnya yang pernah difitnah sebagai penyokong
komunis mendidik anak-anaknya dengan disiplin yang tinggi, bahkan
cenderung otoriter. Menurut Radhar dalam
publikasinya, sejak kecil ia dan saudara-saudaranya sudah diajari
berhitung angka hingga jutaan, pulang ke rumah harus tepat waktu dan
senantisa belajar kapan pun. Dari semua saudaranya, hanya ia yang kerap membangkang dan mendapat hukuman yang sangat keras.
Ketidakcocokan dengan harapan yang dicita-citakan oleh orang tuanya
yang berharap anaknya dapat menjadi pelukis—sementara ia sangat
menyukai teater dan karang-mengarang--dan karena sering pula disakiti
secara fisik membuat Radhar kecil, pada akhir dekade 1970’an, sering
kabur dari rumahnya di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Tujuan fovoritnya saat ia minggat adalah kawasan Bulungan, tempat yang
pada masa kemudian turut berandil membentuk pribadinya seperti yang
dikenal saat ini.Di usia periode tumbuh kembang, ketika masih duduk
bangku kelas lima Sekolah Dasar, ia sudah mampu menghasilkan sebuah
cerita pendek (cerpen), “Tamu Tak Diundang.” Radhar mengirimkannya ke
harian Kompas dan dimuat!
Selama beberapa bulan ia membantu menyeleksi naskah
cerpen dan puisi yang masuk. Ia mulai mengarang cerita pendek, puisi, dan membuat ilustrasi ketika duduk di kelas tiga SMP. Beberapa karyanya, di antaranya, dimuat di majalah Zaman, yang waktu
itu redakturnya adalah Danarto.Ia mencantumkan nama aslinya Radhar sebagai reporter dan Reza sebagai penata artistik.
Pada periode ini produktivitas mengarang cerpen remajanya sangat tinggi. Waktu itu terbit berbagai majalah kumpulan cerpen di Jakarta, seperti Pesona dan Anita, tempat penampungan karyanya.
Cerpen Radhar Panca Dahana kala itu juga mengisi media massa cetak
seperti majalah remaja Gadis, Nona, dan Hai, bahkan majalah dewasa,
seperti Keluarga, Pertiwi, dan Kartini.Anak Lebak Bulus ini diminta menulis rubrik apa saja:
olahraga, kebudayaan, pendidikan, berita kota tentang kriminalitas, dan
hukum. Sejak SD, wataknya yang memberontak dan ingin “menguasai” lebih banyak area publik membuatnya tidak disukai oleh teman-temannya. Di SMA, ia kerap bertengkar dengan guru dan menolak sistem sekolah.
Hal itu tidak mengherankan karena Radhar yang senang membaca buku-buku
berat telah mencerna bulat-bulat tanpa saringan pemahaman Ivan Illic
tentang formalisme pendidikan dalam Bebas dari Sekolah dan pemikiran
Paulo Freire dalam Pendidikan Kaum yang Tertindas.Ketiga orang inilah yang membantunya dengan memberi nasihat tentang apa yang patut diperbuatnya.Baru setahun, Radhar pulang ke Indonesia dan membatalkan fasilitas studi yang harusnya mencapai tingkat doktoral. Alasannya, “Aku tak kuat menahan diri.
Sementara aku hidup enak di sini, di negeriku orang-orang hidup dalam
teror.” Pada waktu itu di Indonesia sedang terjadi kekacauan politik
dan ketidakstabilan keamanan akibat tergulingnya Suharto dari kursi
presiden. Sepulang dari Prancis, Radhar mengalami stres berat.
Ia divonis gagal ginjal kronis, Acute Renal Failure dan Cjronic Renal
Failure, semacam pembunuhan sel-sel ginjal secara perlahan.Pencapaiannya saat ini adalah mengelola rubrik
“Teroka” di harian Kompas, memimpin Federasi Teater Indonesia, Bale
Sastra Kecapi, dan Teater Kosong yang ia dirikan serta pengajar di
Universitas Indonesia.
Kini, Radhar Panca Dahana menetap di Tangerang bersama istri dan seorang anaknya.
Ringkasan lain tentang Radhar Panca Dahana