Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > J.E. TATENGKENG

.

J.E. TATENGKENG

Summary rating: 5 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Pusat Bahasa Jakarta
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 111  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 11, 2007
J E. Tatengkeng atau lengkapnya Jan Engelbert Tatengkeng adalah penyair Pujangga Baru. Ia biasa dipanggil Oom Jan oleh orang-orang dekatnya, panggilan yang lazim di kalangan masyarakat Sulawesi Utara. Tatengkeng memang merupakan salah satu fam dari propinsi itu. Oom Jan ini dilahirkan di Kolongan, Sangihe, Sulawesi Utara, pada tanggal 19 Oktober 1907.a adalah putra dari seorang guru Injil yang juga merupakan kepala sekolah zending.
Di samping itu, tanah kelahirannya, tempat ia dibesarkan oleh orang
tuanya, adalah sebuah pulau kecil di timur laut Sulawesi yang konon
masyarakatnya hampir seluruhnya beragama Kristen.

J.E. Tatengkeng memulai pendidikannya di sebuah sekolah Belanda, HIS, di Manganitu.
Ia kemudian meneruskannya ke Christelijk Middagkweekscool atau Sekolah
Pendidikan Guru Kristen di Bandung, Jawa Barat dan Christelijk Hogere
Kweekschool atau Sekolah Menengah Tinggi Pendidikan Guru Kristen di
Solo, Jawa Tengah.

Di sekolah-sekolah itulah J.E.
Tatengkeng mulai berkenalan dengan kesusastraan Belanda dan gerakan
Tachtigers “Angkatan 80-an”, yang kemudian banyak mempengaruhi
karya-karyanya. Seni harus tinggal seni.”

Bagi Tatengkeng, seni adalah gerakan sukma, “Gerakan sukma yang menjelma ke indah kata! Itulah seni bahasa!,” katanya. Sebagai penyair, J.E. Tatengkeng dikenal sebagai penyair yang dekat dengan alam.
Konon, kedekatan Tatengkeng dengan alam itu timbul sebagai akibat
kekecewaannya karena tidak dapat menemukan kebenaran di dunia barat
yang masih alami.

Di kawanan awan, di warna bunga yang kembang, pada
gunung, dan pada bintang, tetap saja Tatengkeng belum merasa berhasil
menemukan kebenaran hakiki. Oleh karena itu, setelah jiwanya lelah mencari kebenaran hakiki, ia menjadikan Tuhan sebagai tempatnya berlabuh. Gelombang kehidupan Tatengkeng itu tergambar pada sebagian besar sajak-sajaknya. Tentu saja sajak-sajaknya yang religius itu bernafaskan ke-Kristenan, agama yang dianutnya.

Sejak tahun 1953, J.E. Tatengkeng mulai jarang menulis. Akan tetapi, krativitasnya sebagai penyair tidak pernah hilang meskipun ia bergiat dalam bidang politik dan pemerintahan. Hal itu dibuktikan dengan beberapa sajaknya yang dimuat pada beberapa majalah setelah tahun 1953.

J.E Tatengkeng meninggal pada tanggal 6 Maret 1968 dan dikebumikan di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.

Ringkasan lain tentang J.E. TATENGKENG
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------