.

Idrus

Summary rating: 5 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Pusat Bahasa Jakarta
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan: 150
kata: 600
Diterbitkan di: Oktober 11, 2007
Idrus lahir pada tanggal 21 September 1921, di Padang, Sumatera Barat. Ia menikah dengan Ratna Suri, pada tahun 1946. Mereka dikaruniai enam orang anak, empat putra dan dua putri, Prof. Dr. Ir. Nirwan Idrus, Slamet Riadi Idrus, Rizal Idrus, Damayati Idrus, Lenita Idrus, dan Taufik Idrus.

Perkenalan Idrus dengan dunia sastra sudah dimulainya sejak duduk di bangku sekolah, terutama ketika di bangku sekolah menengah. Ia sangat rajin membaca karya-karya roman dan novel Eropa yang dijumpainya di perpustakaan sekolah.Ia berharap dapat menyalurkan minat sastranya di
tempat tersebut, membaca dan mendalami karya-karya sastra yang tersedia
di sana dan berkenalan dengan para sastrawan terkenal. Dan, keinginannya itu pun terwujud, ia berkenalan dengan H.B. Jassin, Sutan Takdir Alisyahbana, Noer Sutan Iskandar, Anas Makruf, dan lain-lain.Kekhasan gayanya dalam menulis pada masa itu
membuatnya memperoleh tempat terhormat dalam dunia sastra, sebagai
Pelopor Angkatan ’45 di bidang prosa, yang dikukuhkan H.B. Jassin dalam bukunya.
Hasratnya yang besar terhadap sastra membuatnya tidak hanya menulis
karya sastra, tetapi juga menulis karya-karya ilmiah yang berkenaan
dengan sastra, seperti “Teknik Mengarang Cerpen” dan “International
Understanding Through the Study of Foreign Literature”.
Kemampuannya menggunakan tiga bahasa asing (Belanda, Inggris, dan
Jerman) membuatnya berpeluang untuk menerjemahkan buku-buku asing.
Hasilnya, antara lain, adalah Perkenalan dengan Anton Chekov, Perknalan
dengan Jaroslov Hask, Perkenalan dengan Luigi Pirandello, dan
Perkenalan dengan Guy de Maupassant.
Karena tekanan politik dan sikap permusuhan yang dilancarkan oleh
Lembaga Kebudayaan Rakyat terhadap penulis-penulis yang tidak sepaham
dengan mereka, Idrus terpaksa meninggalkan tanah air dan pindah ke
Malaysia.Karyanya saat itu, antara lain, Dengan Mata Terbuka (1961) dan Hati Nurani Manusia (1963).
Di dalam dunia sastra, Kehebatan Idrus diakui khalayak sastra,
terutama, setelah karyanya, Surabaya, Corat-Coret di Bawah Tanah, dan
Aki diterbitkan.Namun, tidak berarti ia lantas tidak disebut lagi, ia
masih tetap eksis dengan menulis kritik, esai, dan hal-hal yang
berkenaan dengan sastra di surat kabar, majalah, dan RRI (untuk
dibacakan).
Idrus  oleh  Pusat Bahasa Jakarta    2007 
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.