BRE REDANA
Cerpenis dan kolomnis
ini menjalani masa-masa
sebagai siswa SD Kanisius
(1970) dan SMP Negeri 2 (1973) di kota kelahirannya, Salatiga, Jawa
Tengah. Waktu kuliah itulah ia berkenalan
dengan dunia jurnalistik dengan aktif di pers mahasiswa Gita Mahasiswa. “Ayah saya kader PKI di Salatiga.” Gondo Waluyo, sang
ayah yang dikatakannya sebagai seorang yang terpelajar, dijemput dan
ditahan di tempat yang
tidak diketahui ketika Bre berusia delapan
tahun, masih duduk di bangku sekolah dasar.Sewaktu menjadi mahasiswa, ia rajin
menulis untuk pers di kampusnya. Karangannya juga coba dikirim ke harian Kompas, tetapi tidak ada satu pun yang diterima. Namun, di Sinar Harapan dan Merdeka-lah ia berjodoh. Tulisannya banyak dimuat. Ia beroleh honor yang memadai sebagai penulis di harian ibu kota itu.
Ironisnya, baru saja lulus sarjana muda
dari Satya Wacana, tahun 1981,
Bre Redana malah diterima sebagai wartawan di harian Kompas yang
sebelumnya tidak pernah menerima satu pun tulisannya. Sebagai jurnalis pemula, pria Salatiga ini ditempatkan di bagian yang menangani kolom ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
Seterusnya ia pindah ke bagian kota, olah raga, dan luar negeri, sampai
akhirnya bertugas di bagian yang mengelola kolom budaya—pekerjaan yang
sangat disukainya. Baginya sangat nyaman menangani kolom budaya yang sesuai dengan bakat dan minatnya.a pernah mengatakan, “Kalau saya menonton atau menulis
hal itu lagi, saya seperti merasa kembali ke mata air saya lagi.”
Petualangannya dengan kesenian tradisional usai selepas mengikuti
kuliah kaji-an media di Darlington College of Tehnology, Inggris,
1990-1991.
Fokus tulisan Bre beralih ke masalah sosial di seputar kehidupan
masyarakat Jakarta, seperti gosip artis, tren body shop, sampai toko
mewah Mark and Spencer.Saya merasa ada dimensi yang sakral dari pekerjaan menulis ini.”
Ketika pada 1980-an rezim Suharto mengangkat isu ‘bersih lingkungan’, ia dinyatakan termasuk sebagai orang yang ‘tidak bersih’. Saya merasa ada dimensi yang sakral dari pekerjaan menulis ini.”
Ketika pada 1980-an rezim Suharto mengangkat isu ‘bersih lingkungan’, ia dinyatakan termasuk sebagai orang yang ‘tidak bersih’.“Echo sebagai seorang pemikir bisa menghasilkan esai
yang mampu menjelaskan problem yang ada di masyarakat dengan sangat
bagus dan disampaikan dengan sangat ringan,” tuturnya. Berbicara tentang penampilan, laki-laki yang masih melajang ini melihatnya sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting.Cita-citanya yang masih belum tercapai adalah menghasilkan sebuah karangan dari genre yang lain. “Saya ingin menulis novel,” katanya tentang keinginan yang hendak ia capai. “Setelah di Kompas saya nggak mau kerja di mana-mana lagi. Saya ingin pensiun, lalu menulis.”
Ringkasan lain tentang Bre Redana