Baharuddin Yassin Simbolon atau yang lebih dikenal dengan nama B. Yass adalah seorang pengarang Indonesia yang banyak melahirkan karyanya di Palembang. Di kalangan sastra Sumatera Selatan, B. Yass sangat disegani karena berbagai kiprahnya
dalam dunia jurnalistik dan sastra sangat menonjol. B.
Yass dilahirkan pada
tahun 1929, di Kampung Huta Padang, Kisaran,
Kabupaten asahan, Sumatera Utara,
dari pasangan Mohammad Yassin
Simbolon dan Siti Mian Boru Manurung. Kedua orang tua B. Yass berasal dari daerah yang sama, yaitu Huta Padang, Kisaran, Sumatera Utara.Yass di tanah kelahirannya. Setelah
Sekolah Rakyat Huta Padang pada tahun 1939, B. Yass melanjutkan ke Sekolah Rakyat Sambungan Tanjung Balai, Asahan, dan tamat pada tahun 1942.
kemudian, dia melanjutkan pendidikannya ke sekolah Jepang Nitti Go
Gakko (setingkat SMP) pada tahun 1945, di Tanjung Balai, Asahan. Ia
belajar di sekolah tersebut sampai kelas
dua karena sekolah tersebut
ditutup. Penutupan sekolah Nitti Go Gakko berkaitan dengan kekalahan
Jepang dalam Perang Pasifik. Setelah keluar dari sekolah Nitti Go
Gakko, B. Yass bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) hingga tahun 1950. a bekerja sebagai wartawan di beberapa media di kota Pelembang. Kemampuan B. Yass dalam tulis-menulis berdampak positif pada karier kewartawanannya. Karya B. Yass banyak dimuat di berbagai media massa
antara lain Gembira, Sastra, Horison, Roman, Konco, Indonesia,
Gelanggang, dan Gema Islam. Akan tetapi, B. Yass tidak ingat lagi berapa jumlah karya yang telah dihasilkannya. Tentang hal itu, ada dua pemberitaan tentang dunia kreatif B. Yass yang dimuat dalam dua media dari dua kurun yang berbeda. Koran Minggu Pagi, edisi 7 Agustus 1966 memaparkan kreativitas B. Yass dengan menggambarkan sosok B. Yass sebagai penulis produktif. Menurut media itu, B. Yass telah menghasilkan puluhan, bahkan ratusan cerita pendek yang dimuat di media massa.Sampai pada penghujung tahun 1995, B. Yass sudah menerima kiriman 232 wesel dari surat kabar yang memuat karya-karyanya.
Beberapa karya B.
Yass, antara lain yang berupa cerita pendek adalah (1) Halimah Srikandi
(1962), (2) Minah Gadis Peladang (1964), dan (3) Di Lereng Bukit (1994). Karyanya yang berbentuk novel adalah Kelok Lima yang diterbitkan Grasindo Jakarta pada tahun 2002.
Kiprahnya dalam dunia sastra serasa bukan menjadi ukuran karena di akhir hayatnya B. Yass lebih memilih hidup di Jakarta. Bahkan, beliau menghembuskan napas terakhir di Jakarta dan dimakamkan di Palembang. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tahun 2003 dan jenazahnya dikebumikan di Palembang.
Ringkasan lain tentang Baharuddin Yassin Simbolon