ASRUL SANI (1926—2004)*
Asrul Sani lahir di Rao, suatu daerah di sebelah utara Sumatera Barat,
pada tanggal 10 Juni 1926 dan meninggal di Jakarta, pada tanggal …2004. Ayahnya adalah seorang raja yang bergelar “Sultan Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Sakti RaoMapat”.
Meski membenci Belanda, ayahnya sangat menggemari musik klasik (aliran
musik bergengsi
dari Eropa yang tidak biasa didengar oleh penduduk
pribumi pada saat itu, apalagi di daerah terbelakang seperti Rao). Oleh karena itu, Asrul patut berbangga hati karena sebelum bersekolah, ia sudah mendengar karya-karya terkenal dari Schubert.ernyata pendapat dan perhatiannya tepat sebaliknya daripada yang kami harapkan. Tapi
itu tidaklah begitu mengejutkan dibanding dengan
kata-katanya yang lain: “Tahu apa orang-orang ini tentang Keats dan
Shelley! Bukan hanya kami yang baru dengar kata-kata aneh itu, juga Victor Hugo-nya Sanjaya menjadi gagu kehilangan lidah!Bahkan, di sela-sela kuliahnya, ia masih sempat
belajar drama di akademi seni drama di Amsterdam (bea siswa dari
Lembaga Kebudayaan Indonesia-Belanda, 1952).
(M. Balfas dalamHutagalung)g
Di dalam dunia sastra Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan ’45.
Kariernya sebagai Sastrawan mulai menanjak ketika bersama Chairil Anwar
dan Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga
Menguak Takdir. Kumpulan puisi itu sangat banyak
mendapat tanggapan, terutama judulnya yang mendatangkan beberapa tafsir. Cerpennya yang berjudul “Sahabat Saya Cordiaz”
dimasukkan oleh Teeuw ke dalam “Moderne Indonesische Verhalen” dan
dramanya ,Mahkamah, mendapat pujian dari para kritikus. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai penulis esai, bahkan penulis esai terbaik tahun ’50-an. Salah satu karya esainya yang terkenal adalah “Surat atas Kertas Merah Jambu” (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda).
Ia menulis skenario film “Lewat Jam Malam (mendapat
penghargaan dari FFI, 1955), “Apa yang Kau Cari Palupi?” (mendapat
Golden Harvest pada Festival Film Asia, 1971), “Kemelut Hidup”
(mendapat Piala Citra 1979),dll.Yang pertama, ia menikahi Siti Nuraini, temannya
sesama wartawan, pada tanggal 29 Maret 1951, di Bogor (dan bercerai
pada tahun 1961). Yang kedua, ia menikahi Mutiara Sarumpaet, 22 tahu lebih muda darinya, pada tanggal 29 desember 1972.
Dari pernikahannya yang pertama, Asrul dikaruniai tiga anak perempuan
dan dari pernikahannya yang kedua Asrul dikaruniai tiga anak laki-laki
Pada masa akhir hidupnya, istrinya, Mutiara Sarumpaet, tetap setia
mendampinginya. Asrul yang mulai renta dan sudah harus duduk di kursi roda tidak menghalangi keduanya untuk tampil di depan umum dengan mesra.Ketika menghadiri acara pelantikan Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D.
(adik kandung Mutiara) menjadi guru besar di Universitas Indonesia (3
September 2003), Mutiara dengan mesra menyuapi Asrul di atas kursi
rodanya. Makanan dan minuman yang sesekali meluncur dari bibir dan mengotori dagunya, dilap oleh Mutiara dengan lembut.
Ringkasan lain tentang ASRUL SANI (1926—2004)