Armijn Pane
Summary rating: 4 stars
4 Tinjauan
Kunjungan:
271
kata:
900
Diterbitkan di: Oktober 11, 2007
Menurut J.S Badudu dkk. (1984:30). Armijn Pane juga bernama Ammak,
Ananta, Anom Lengghana, Antar Iras, AR., A.R., Ara bin Ari, dan Aria
Indra. Dengan nama-nama itu ia menulis puisi dalam majalah Pedoman
Masyarakat, Poedjangga Baroe, dan Pandji Islam. Armijn Pane, anak
ketiga dari 8 bersaudara, mempunyai nama samaran banyak, yaitu Adinata,
A. Jiwa, Empe, A. Mada, A. Panji, dan Kartono. Ia dilahirkan tanggal 18
Agustus 1908 di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.
Tempat peristirahatannya yang terakhir adalah
pemakaman Karet, Jakarta, berdampingan dengan makam kakaknya, Sanusi
Pane, yang meninggal satu tahun sebelumnya.
Armijn Pane meninggalkan seorang istri dan seorang anak angkatnya
berusia 6 tahun yang pada saat ia meninggal beralamat di jalan Setia
Budi II No. 5, Jakarta.
Sayang sekolahnya tidak dilanjutkan, kemudian tahun
1927 ia pindah ke Nederlands-Indische Artsenschool (Nias) ‘sekolah
kedokteran’ (Nias) yang didirikan tahun 1913 di Surabaya.
Jiwa seninya tidak dapat dikendalikan sehingga ia kemudian masuk ke AMS
bagian AI jurusan bahasa dan kesusastraan di Surakarta hingga tamat
tahun 1931.
Dalam dunia pendidikan ia juga tercatat sebagai guru bahasa dan sejarah
di perguruan Taman Siswa, baik di Kediri maupun di Jakarta.
Dalam kedua cerita itu tidak tampak hal-hal yang
mendasar tentang ilmu kedokteran yang dimiliki tokoh, yang disajikan
hanya wajah dan perilaku tokoh dokter secara permukaan.
Hal ini mungkin saja karena ia sekolah kedokteran tidak sampai tamat
sehingga tidak sampai menghayati segalanya yang berhubungan dengan ilmu
itu.
Diberitakan bahwa Armijn Pane setibanya di Jakarta akan menceburkan diri di lapangan penerbitan. Armijn Pane mengasuh majalah Indonesia yang berisi 124 halaman sejak Februari 1955 bersama Mr. St. Moh. Syah, dan Boeyoeng Saleh. Armijn menulis “ Produksi Film Cerita di Indonesia”, setebal 112 halaman dalam majalah Indonesia itu.
Di dalam dunia sandiwara ia menjadi anggota terkemuka
gabungan usaha sandiwara Jawa, di samping sebagai Ketua Muda “Angkatan
Baru”, perkumpulan seniman di kantor kebudayaan itu. Ia memulai kariernya sebagai pengarang dan sastrawan ketika ia menjadi wartawan, dan sebagai guru pada Pendidikan Taman Siswa. Ia pernah mengajar bahasa dan sejarah di Sekolah Taman Siswa di Kendiri kemudian di Jakarta.
Di sampaing itu, tahun 1938 ia menjadi sekretaris
Kongres Bahasa Indonesia yang pertama, ia juga menjadi penganjur Balai
Bahasa Indonesia dan di zaman Jepang ia menjadi anggota komosi istilah.
Akan tetapi, dalam masa menjalani tugasnya, baik di
zaman Beanda, zaman Jepang, maupun zaman republik Armijn selalu
menyaksikan hal-hal yang tidak beres yang menusuk hati nuraninya.
Ketika ia menjadi Kepala Bagian Kesusastraan di Pusat Kebudayaan,
atasannya, orang Jepang, menunjukkan majalah yang bersisi berita
tantang dilancarkannya armada Jepang oleh armada Sekuti di sekitar
Morotai.
Karena Armijn seorang yang polos, jujur, dan tidak pernah mengubah fakta, dibuatnyalah laporan yang diberikan Jepang itu.
Akibatnya, ia harus berhadapan dengan kempetai sehingga ia menderita
lahir dan batin akibat perlakukan kasar kempetai yang kemungkinan ingin
menguji ke mana Armijn memihak. Itulah salah satu pengalaman pahitnya yang menyebabkan dirinya terkena pukulan batin terus-menerus dalam pekerjaannya.
Hal itu diungkapkannya pada pengantar novelnya,
Belenggu seperti berikut, “kalau keyakinan sudah menjadi pohon
beringin, robohlah segala pertimbangan yang lain.”
Jadi, apapun yang dihadapkan pada keyakinannya yang sudah kokoh itu tak
akan menggoyahkannya.
Dalam karya Belenggu, tekadnya menjadi seorang manusia yang berguna
bagi bangsa dan negara seperti yang disarankan Armijn Pane dalam
ceramahnya yang tercermin pada tokoh dr. Sukartono dalam novel Belenggu.
Dalam ceramah itu pengarang mengungkapkan
pengalamannya yang berkaitan dengan kepenga-rangannya dan sedikit
menyinggung soal angkatan. Butir-butir pikiran
yang disampaikannya padasaat itu adalah (1) “Mengapa Aku Rela dan
Ikhlas Jadi Pengarang”, (2) “Bagaimana Aku Memperbaharui Kerelaan and
Keikhlasanku sebagai Pengarang di Zaman Sekarang ”, (3) “Sikap Hidup
Bagi Pengarang”, (4) “Struktur Mengarang Fase-Fase Mengarang”, (5)
“Pengarang Keagamaan dan Pengarang Nasional”, (6) “Apa yang Perlu Kita
Dapat dari Pengarang-Pengarang Luar Negeri”, (7) “Apakah Pengarang
Manurut Pendapat Pengarang”, (8) “Serba Sedikit Tentang Angkatan”.
Dalam struktur karangan harus selalu ada tiga pihak, yaitu yang dilawan, yang melawan, dan yang menggerakan.
Di samping itu, pengarang memiliki hati nurani, moral, dan inspirasi,
yaitu inspirasi yang dikendalikan pengarang, agar pengarang selalu
sadar akan apa yang harus dilakukan.
Dalam kesempatan itu Armijn juga mengarapkan agar di antara pengarang
muda akan muncul pengarang keagamaan Indonesia yang dapat dihargai.
Dari uraian dalam ceramah itu, dapat disimpulkan bahwa
Armijn Pane, ternyata samapai usia 62 tahun, pengamatan dan cintanya
terhadap dunia sastra tetap segar.