Sembahyang Rerumputan adalah sebuah
puisi yang
menggambarkan kepasrahan umat manusia terhadap Tuhan sehingga terkesan
bernuansa religius ini, hampir tidak pernah luput dari jangkauan
peserta atau panita pada setiap kesempatan lomba baca puisi atau lomba
musikalisasi puisi. Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga mengenyam
pendidikan di Fakultas
Sastra Universitas Negeri Jogyakarta, Ahmadun
gemar menulis.
Karya-karyanya telah dipublikasikan di berbagai media
sastra dan
antologi karya sastra yang terbit di dalam dan luar negeri,
antara lain, Horison, Ulumul Qu’ran, Kompas, Media Indonesia,
Republika, Bahana (brunei), Paradoks, Kilas Balik (kumpulan cerpen,
Radio Nederland, 1989), Pagelaran (kumpulan cerepen, Bentang, 1993),
Lukisan Matahari (antologi cerpen, Bernas, 1993), Secreets Need Words
(antologi puisi dunia, Heather Leah Huddleston, ed. The
International Library of Poetry, Maryland, USA, 2002), jurnal Indonesia
and The Malay World (London, Inggris, November, 1998), The Poets’ Chant
(The Literary Section, Committee of The Istiqlal Festival II, Suara
Jerman (Deutse Welle) .
Di tengah kesibukan sebagai wartawan dan penulis,
Ahmadun pada tahun 1997 menjadi pembicara dalam Pertemuan Sastrawan
Nusantara (PSN) IX di Padang dan tahun 1999 mengikuti PSN X di Johor,
Malaysia.
Buku-bukunya yang telah terbit adalah Sang Matahari
(puisi, Nusa Indah, Ende, 1984), Sajak Penari (Puisi, Masyarakat
Poetika Indonesia, Yogjakarta, 1991), Fragmen-Fragmen Kekalahan (Puisi,
Penerbit Angkasa, Bandung, 1996), Sembahyang Rerumputan (Puisi, Yayasan
Bentang Budaya, Yogjakarta, 1996), Sebelum Tertawa Dilarang (Cerpen,
Balai Pustaka, Jakarta, 2004), Ciuman Pertama Untuk Tuhan (Puisi
dwi-bahasa, Logung Pustaka, Yogjakarta, 2004), Badai Laut Biru (Cerpen,
Senayan Abadi Publising,
jakarta 2004), Sebutir Kepala Seekor Kucing
(puisi dwi-bahasa, cerpen, Bening Publising, Jakarta, 2004) dan The
Worshipping Grass (Puisi dwi-bahasa, Bening Publising, Jakarta, 2004)
Selain menulis puisi, cerpen, dan esai, Ahmadun Yosi Herfanda hingga
kini menjalani profesi sebagai wartawan. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta ini juga akif di berbagai organisasi, antara lain, di HMI dan ICMI.
Ringkasan lain tentang Ahmadun Yosi Herfanda