• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Abdul Muis (1883—1959)

.

Abdul Muis (1883—1959)

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : Pusat Bahasa Jakarta
Abdul Muis (1883—1959)
Abdul Muis lahir pada tanggal 3 Juni 1883 di Bukittinggi, Sumatra Barat. Bahkan, menurut orang
Belanda, kemampuan Abdul Muis
dalam berbahasa Belanda dianggap melebihi rata-rata orang Belanda
sendiri (Mimbar Indonesia. No.24-25, 19 Juni 1959).
Oleh karena itu, begitu keluar dan Stovia, ia diangkat oleh Mr.
Abendanon, Directeur Onderwzjs (Direktur Pendidikan) pada Departement
van Onderwijs en Eredienst yang kebetulan membawahi Stovia.
Akhirnya, pada tahun 1905 Ia keluar dan
Departemen itu setelah dijalaninya selama Iebih kurang dua setengah
tahun (1903-- 1905). Pada tahun 1905 itu juga ia diterima sebagai anggota
dewan redaksi majalah Bintang Hindia, sebuah majalah yang banyak memuat
berita politik, di Bandung. Pekerjaan itu ditekuninya selama lebih kurang lima
tahun, sebelum ia diperhentikan dengan hormat (karena cekcok dengan
controleur) pada tahun 1912. Ia kemudian
bekerja di De Prianger Bode, sebuah surat kabar (harian) Belanda yang
terbit di Bandung, sebagal korektor, Hanya dalam tempo tiga bulan, ia
diangkat menjadi hoofdcorrector(korektor kepala) karena kemampuan
berbahasa Belandanya yang baik (Mimbar Indonesia. No.24-25, 119 Juni 1959).
Sebagai pemuda yang berjiwa patriot, ia mulai tertarik pada dunia politik dan masuklah ia ke Serikat Islam (SI). Bersama dengan mendiang A.H. Wignyadisastra, Ia dipercaya untuk memimpin Kaum Muda, salah satu surat kabar milik SI yang terbit di Bandung. Pada tahun itu pula, atas imsiatif dr.
Cipto Mangunkusumo, Abdul Muis (bersama dengan Wignyadisastra dan
Suwardi Suryaningrat) membentuk Komite Bumi Putra untuk mengadakan
perlawanan terhadap maksud Belanda mengadakan perayaan besar-besaran
100 tahun kemerdekaannya serta untuk mendesak Ratu Belanda agar
memberikan kebebasan bagi bangsa Indonesia dalam berpolitik dan
bernegara (Mimbar Indonesia, No.24-25, 19 Juni 959).
Pada tahun 1917 ia dipercaya sebagai utusan SI pergi ke Negeri Belanda untuk mem-propagandakan comite Indie Weerbaar.
Pada tahun 1918, sekembalinya dan Negeri Belanda, Abdul Muis terpaksa
harus pindah kerja ke harian Neraca karena Kaum Muda telah diambil alih
oleh Politiek Economische Bond, sebuah gerakan politik Belanda di bawah
pimpinan Residen Engelenberg. Pada tahun 1918 itu juga, Abdul Muis menjadi anggota dewan Volksraad (Dewan Rakyat Jajahan).
Pada tahun 1922, misalnya, ia memimpin anak buahnya
yang tergabung dalain PPPB (Perkumpulan Pegawal Pegadaian Bumiputra)
mengadakan pemogokan di Yogyakarta. Setahun
kemudian, ia pun memimpin sebuah gerakan memprotes aturan
landrentestelsel (Undang-undang Pengawasan Tanah) yang akan
diberlakukan oleh Belanda di Sumatra Barat (Biodata “Abdul Muis” yang
tersimpan di Perpustakaan PDS H.B. Jassin).
Diterbitkan di: Oktober 11, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.