Nama lengkapnya adalah Ali Akbar Navis, tetapi sepanjang kariernya ia
lebih dikenal dengan namanya yang lebih simpel A.A. Navis. Navis selalu membaca cerita-cerita
itu dan lama kelamaan ia pun mulai menggemarinya. Ayahnya mengetahui dan mau mengerti akan kegemaran Navis itu. Perjalanan panjang yang ditempuhnya setiap hari itulah
yang kemudian dimanfaatkannya untuk membaca buku-buku sastra yang
dibelinya itu. Selama sekolah di INS, selain mendapat pelajaran utama, Navis
juga mendapat pelajaran kesenian dan
berbagai keterampilan.
Dari berbagai bacaan yang diperolehnya, Navis kemudian mulai menulis kritik dan esai. Selain cerpen, Navis juga menulis naskah sandiwara
untuk beberapa stasiun RRI, seperti Stasiun RRI Bukittinggi, Padang,
Palembang, dan Makassar. Navis memang prihatin terhadap situasi bangsa
Indonesia saat itu sehingga tidak perlu heran mengapa banyak
pengarang lebih memilih membuat cerita “hiburan” agar bisa terbit.
Tentang kehadirannya di percaturan sastra Indonesia, A.
Teeuw berkomentar bahwa Navis sebenarnya bukan seorang pengarang besar,
tetapi seorang pengarang yang menyuarakan suara Sumatera di tengah
konsep Jawa (pengarang Jawa) sehingga ia layak disebut
sebagai pengarang “Angkatan Terbaru”. Komentar lain,
Abrar Yusra mengatakan bahwa cerpen Navis “Robohnya Surau Kami” yang
mendapat hadiah kedua dari majalah Kisah sebenarnya lebih terkenal
daripada cerpen “kejantanan di Sumbing” karya Subagio Sastrowardoyo.
Di samping itu, Navis juga sering menghadiri berbagai seminar masalah sosial dan budaya, sebagai pemakalah atau peserta. Ia memperhatikan reaksi istrinya ketika membaca dan
itulah yang dibuatnya sebagai ukuran bahwa tulisannya sesuai atau
tidak dengan keinginannya.
Ringkasan lain tentang A.A. Navis