Ketika
itu, yang dianggap paling dominan adalah
warna lokal Jawa, yang terutama ditandai dengan karya-karya Linus Suryadi,
Romo Mangun, Darmanto Jatman, Umar Kayam, Danarto, Ahmad Tohari, dan
lain-lain di samping warna lokal outer
Indonesia (istilah pinjaman dari Clifford Geertz), entah itu Sumatra
(Riau, Minangkabau) atau Kalimantan (Dayak), melalui karya-karya
Ibrahim Sattah, Hamid Jabbar, Darman Moenir, Harris Effendi Thahar,
juga Korrie Layun Rampan.
Perkembangan karya
sastra hari ini masih menyediakan tempat bagi karya
yang mengembuskan warna lokal di dalamnya, sebutlah, kumpulan cerpen
Raudal Tanjung Banua Parang Tak Berulu
yang menawarkan representasi dunia perempuan di tengah masyarakat
Minangkabau, atau Rumah Kawin
Nur Zen Hae yang berlatar kultur masyarakat Betawi, juga karya-karya
Taufik Ikram Jamil yang keras mengenduskan persoalan masyarakat
Melayu-Riau, sajak-sajak Tan Lioe Ie yang menghembuskan aroma
(lokalitas) kultur masyarakat Tionghoa, atau juga Gus Tf dan sejumlah
para sastrawan lainnya.
Warna lokal inilah yang mendominasi perkembangan
sastra dunia hari ini, seperti yang terjadi di Inggris, Prancis, dan
negara-negara Eropa lainnya sehingga di situ terbaca seluruh
keberbagaian kulturnya, demikian juga di Amerika.
Ia hanya semacam pintu untuk membuka khazanah
kesusastraan di Tanah Air, yang amat kaya dengan muatan-muatan yang
terkadang tidak kita temukan di
dalam rumusan-rumusan model Barat. Melepaskan diri dari kongres yang hanya berkonsentrasi
pada genre cerpen, tema ini agaknya menarik bukan pertama-tama karena
sayup-sayup ia menjadi semacam ikhtiar untuk kembali menegaskan apa
yang telah menjadi jejak sebelumnya dalam memerkarakan hubungan antara
karya sastra, sastrawan, dan konteks lokalnya, yang terutama muncul
sejak periode tahun 1950-an yang dihuni oleh para sastrawan yang oleh
Goenawan Mohamad disebut sebagai generasi pos-Chairil.
Namun tema itu juga menarik diapungkan sebagai sebuah isu di tengah
perkembangan yang muncul dalam konteks global dan fenomena budaya urban
yang membayanginya, yang di dalamnya sastra Indonesia menunjukkan
perkembangannya.
Keberbagaian dimaksud menekan ke dalam asumsi bahwa
karya sastra yang bermunculan hari ini tidak lagi memberi tempat pada
dimensi-dimensi lokalitas, yang tak hanya merepresentasikan berbagai
latar dan
cara pengucapan, melainkan juga melukiskan berbagai konflik
dan cara pandang. Di hadapan konteks global dan
fenomena urban, karya sastra hari ini dipandang melulu bergerak dalam
ruang yang sama: permasalahan yang sama, cara pengucapan yang sama, dan
cara pandang yang sama pula. Dalam melukiskan
persoalan perempuan dan seks, misalnya, karya cerpenis yang tinggal di
Pontianak atau penyair yang tinggal di Kendari, tak ada bedanya dengan
karya mereka yang tinggal di Jakarta.
Tak hanya setting dan cara pengucapan, tapi sekali
lagi, juga cara pandang di dalamnya yang sayup-sayup membayangkan
konteks kultur dan etos tradisi yang mengikutinya dengan berbagai
respons dan perubahan yang terjadi di dalamnya.
Meski asumsi dan kecurigaan itu mungkin bisa dipandang berlebihan,
sebab fenomena global dengan kekuatan teknologi informasi yang
diusungnya telah menggeser cara pandang orang terhadap realitas di sini
dan di sana, namun asumsi dan kecurigaan itu juga memiliki alasannya.
Meskipun perkembangan karya sastra hari ini masih
menyediakan tempat bagi karya yang mengembuskan warna lokal di
dalamnya, sebutlah, seperti telah disinggung di pendahuluan, kumpulan
cerpen Raudal Tanjung Banua Parang Tak Berulu
yang menawarkan representasi dunia perempuan di tengah masyarakat
Minangkabau, atau Rumah Kawin
Nur Zen Hae yang berlatar kultur masyarakat Betawi, juga karya-karya
Taufik Ikram Jamil yang keras mengenduskan persoalan masyarakat
Melayu-Riau, sajak-sajak Tan Lio Ie yang menghembuskan aroma
(lokalitas) kultur masyarakat Tionghoa, atau juga Gus Tf dan sejumlah
para sastrawan lainnya;
namun kehadiran warna lokal dalam karya-karya mereka tetaplah terasa
tersisihkan di tengah isu sastra yang didominasi oleh perbincangan di
seputar tema-tema masyarakat urban-global.
''''Rabun dekat'''' agaknya adalah situasi yang harus
dihadapi oleh generasi terkini, sebab mereka hidup dalam konteks yang
berbeda dibanding generasi sastrawan pendahulunya, yang menurut Ajip
Rosidi ketika itu para sastrawan masih hidup dalam bahasa ibunya yang
membuatnya leluasa membangun cara pandang lokalitasnya meski ia menulis
dalam bahasa Indonesia.
Dalam kaitan inilah, menggali kembali nilai-nilai
tradisi dalam karya sastra, mempunyai peran yang cukup penting dalam
upaya menegaskan kembali identitas setiap budaya lokal yang ada,
seperti yang dilakukan oleh bangsa Cina dan India.
Ringkasan lain tentang WARNA LOKAL DALAM SASTRA INDONESIA