Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > CATATAN KECIL UNTUK REVISI KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA

.

CATATAN KECIL UNTUK REVISI KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA

Summary rating: 4 stars 2 Tinjauan
Pengarang : Junaiyah H.M.
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 316  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 11, 2007
Tulisan kecil ini dimaksudkan untuk menyokong upaya
Pusat Bahasa dalam merevisi Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang mungkin
akan diluncurkan pada saat Kongres Bahasa Indonesia yang akan datang. Memang hari peringatan itu masih terlalu jauh, masih
dua tahun lagi (28 Oktober 2008) dan tulisan ini tampak seperti sesuatu
yang sia-sia.
Tulisan ini hanya menyoroti Kamus Besar Bahasa
Indonesia (disingkat: KBBI) itu dari sisi makna, definisi, perlakuan
terhadap kata-kata yang dapat mengalami transposisi, rujuk silang, dan
kategori kata.

Pertama, mengenai makna.
Agaknya, patut dicermati lagi apakah makna kata yang dicantumkan di
kamus itu sudah tepat, sudah sungguh-sungguh mengungkapkan komponen
yang ada pada realitas maujud yang sebenarnya, dan apakah juga makna
itu sudah benar-benar tidak salah atau tidak keliru?
Sebagai kata dasar, rasanya kata itu berarti ‘tengkar’ atau ‘lawan’.
Kata itu dapat diturunkan menjadi verba berprefiks ber- à berbantah,
yang berarti ‘bertengkar’, atau verba berprefiks meng- à membantah
berarti ‘melawan’ atau ‘menyangkal’.

Jadi, tampaknya di dalam kamus harus terdapat dua kata
bantah, yaitu bantah n ‘pertengkaran’ (?) dan bantah v yang berarti 1. ‘lawan’: …; 2. ‘tengkar’: ….
Dengan demikian, di satu sisi terdapat kata bantah v yang berarti
‘lawan’, ‘sangkal’ dan membantah ‘melawan’, ‘menyangkal’ (pembantah,
pembantahan) dan di sisi lain ada kata bantah v yang berarti ‘tengkar’,
berbantah ‘bertengkar’, dan perbantahan ‘pertengkaran’ atau ‘perihal
bertengkar’.

Padahal, di dalam kenyataan sehari-hari banyak sekali
makanan yang digoreng, tetapi tidak disantap dalam keadaan
kering-kering, seperti tempe goreng mendoan dan telur goreng setengah
matang. Selain itu, banyak sekali alat goreng
yang tidak berbentuk wajan, bahkan sekarang ini telah mulai populer
alat goreng berbentuk panci, segi empat, atau segi panjang dan
menggunakan sarang pengering.
Pada “Petunjuk Pemakaian” tidak ada penjelasan
mengenai mengapa hal itu terjadi sehingga pembaca tidak memperoleh
pengetahuan sama sekali, kecuali menduga-duga, mengapa kata-kata itu
diperlakukan bersebalikan seperti itu. Pembaca
juga tidak mendapatkan penjelasan mengapa yang satu dimulai dengan
bidang dl linguistik, tetapi yang lain dimulai dengan cabang ilmu
bahasa.
Jika susunan kata bantah di dalam kamus dirapikan
seperti di atas, kalimat lisan Jangan bantah omongan orang tuamu
menjadi berterima karena maknanya ‘jangan lawan perkataan orang tuamu’,
bukan ‘jangan pertengkaran kata orang tuamu’ yang hampir tidak pernah
diucapkan penutur bahasa Indonesia.
Oleh karena itu, kata mengaku (yang berkelas verba)
itu seharusnya diturunkan dari kata aku yang juga berkategori verba
atau berpotensi menjadi verba), bukan dari meng- + aku (pronomina)
sebab bentuk yang terakhir itu seharusnya bermakna ‘menyaya’ (sama
dengan meng- + saya).
Di dalam KBBI terdapat banyak kata rujuk silang
(ditandai dengan tanda panah sebelum kata yang dirujuk), tetapi sering
terjadi kata yang dirujuk itu ternyata tidak ada. Jika ada, penjelasan kata itu pun sering tidak menjelaskan apa-apa, misalnya

sembirat à sebacat

teruka à teruko

Akan tetapi, kata sebacat dan teruko, yang dirujuk itu, ternyata tidak ada.

Mungkin masih banyak yang dapat diperbaiki pada kamus
tersebut, tetapi lima hal itu pun rasanya sudah sangat melelahkan dan
menyita waktu Pusat Bahasa untuk menampilkan hasil revisi yang lebih
baik daripada yang sekarang.

Ringkasan lain tentang CATATAN KECIL UNTUK REVISI KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------