Di kota besar perkelahian pelajar (tawuran) yang
nyaris terjadi setiap hari, kerentanan pelajar untuk terlibat narkoba,
naluri kekerasan yang semakin lama semakin menggila, kejujuran dan
sopan santun yang semakin menipis, dan sebagainya benar-benar
memprihatinkan.
Karena siswa bukan benda mati dan disket yang mudah
meng-copy, nilai-nilai luhur itu akan mereka coba kaitkan
dengan kehidupan nyata yang mereka lihat di sekelilingnya.
Bagaimanapun, nilai-nilai luhur akan dicari kaitannya
dengan
sosok dan
lembaga yang diandaikan sebagai pengejawantahan
keluhuran itu: lembaga pemerintahan, lembaga perwakilan rakyat, lembaga
pengadilan, lembaga keagamaan, organisasi masyarakat yang besar dan
berpengaruh, serta pribadi para pemimpin, selain sosok guru yang
menjadi sumber
nilai acuan sehari-hari mereka.
Burung-Burung Manyar membawa kita pada kompleksitas
kehidupan dan permasalahan yang melingkupi Setadewa alias Teto sehingga
dia menyurukkan diri pada pilihan menjadi serdadu KNIL dan berperang di
pihak Belanda. Anehnya, kita justru ikut berada
di pihak Teto -sesuatu yang nyaris mustahil
dalam kehidupan nyata- dan
bersama itu kita belajar memahami alasannya, situasi khasnya,
keterpukulan batinnya yang melihat mamienya diinternir Jepang, dan
turut berdebar-debar menghikmati cintanya yang bersegi-segi kepada
Atiek, perempuan cantik aktivis pergerakan kemerdekaan.
Ruang yang tersedia dalam karya sastra itu membuka
peluang bagi pembaca untuk tumbuh menjadi pribadi yang kritis pada satu
sisi dan pribadi yang bijaksana karena pengalaman membaca sastra telah
membawanya bertemu dengan berbagai macam tema dan latar manusia serta
membawanya pula bertemu dengan beragam manusia dengan beragam karakter,
ideologi, kecemasan, kegirangan, dan harapannya.
Parodi dan ironi merupakan bagian yang inheren dalam karya sastra
sehingga kategori moral yang dirumuskan dalam pelajaran Budi Pekerti
akan langsung diuji dalam situasinya, dialami melalui empati, dan
dihidupi melalui apresiasi.
Dihadirkannya sosok "kotor" pelacur Maria Zaitun dalam
sajak Rendra, "Nyanyian Angsa", menggarisbawahi secara tajam kehadiran
masyarakat "suci", seperti dokter dan bahkan pendeta yang dengan selop
kulit buaya serta bau anggur di mulutnya mengutuk dan mengusir Maria
Zaitun karena sosok hina dina itu hanya pantas di neraka.
Ia tidak mungkin ditumbuhkan dengan angka statistik
kenakalan remaja dan akibatnya atau dengan ajaran formal tentang budi
yang luhur dan agung sebagaimana tempo hari pernah diajarkan dalam
penataran P-4 hingga berbutir-butir. Demikian
banyak butirnya, tetapi sedikit hasilnya karena di Jakarta butir-butir
itu tumbuh menjadi butir-butir kegarangan yang meledak dalam tawuran
pelajar di jalanan dan di MPR meledak sebagai tinju antarpartai dan
golongan.
Ringkasan lain tentang Sastra sebagai Sarana Menggugah Budi Pekerti