BAHASA DAN SASTRA SEBAGAI IDENTITI BANGSA DALAM PROSES GLOBALISASI
Summary rating: 3 stars
9 Tinjauan
Kunjungan:
532
kata:
300
Diterbitkan di: Oktober 11, 2007
Oleh rasa takut dan cemas yang berlebihan itu,
antisipasi yang dilakukan cenderung bersifat defensif membangun
benteng-benteng pertahanan dan merasa diri sebagai objek daripada
subjek di dalam proses perubahan.
Bagaimana dengan bahasa dan sastra? Apakah yang terjadi dengan bahasa dan sastra Indonesia di dalam proses globalisasi?
Apakah yang harus dilakukan dan kebijakan yang bagaiman yang harus
diambil dalam hubungan sastra Indonesia dalam menghadapi proses
globalisasi atau di dalam era pasar bebas?
"Berpikir lokal, bertindak global", seperti yang dikemukakan Naisbitt
itu, pastilah akan menempatkan masalah bahasa dan sastra, khususnya
bahasa dan sastra Indonesia, sebagai sesuatu yang penting di dalam era
globalisasi. Proses berpikir tidak akan mungkin dilakukan tanpa bahasa. Bahasa yang akrab untuk masyarakat (lokal) Indonesia adalah bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia yang tadinya berkembang dari bahasa Melayu itu telah "menggusur" sejumlah bahasa lokal (etnis) yang kecil.
Bahasa Indonesia yang semulanya berasal dari bahasa Melayu itu bahkan
juga menggeser dan menggoyahkan bahasa etnis-etnis yang cukup besar,
seperti bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa dari masyarakat baru yang bernama masyarakat Indonesia.
Peranan kawasan ini (termasuk masyarakatnya, tentu
saja) sebagai kekuatan ekonomi, industri dan ilmu pengetahuan yang baru
di dunia, akan menentukan pula bagaimana perkembangan bahasa Indonesia
(dan bahasa Melayu) modern. Bahasa dan sastra Indonesia sudah semenjak lama memiliki tradisi kosmopolitan. Sastra modern Indonesia telah menggeser dan menggusur sastra tradisi yang ada di pelbagai etnis yang ada di Nusantara.