Sebagai upaya untuk menerobos segala barikade konteks
manusia masing-masing pada desa-kala-patranya
(tempat-waktu-suasananya),
sastra telah memilih tema-tema terbaik,
seperti kematian, kelahiran, kesakitan, kesedihan, kesenangan,
kesangsian, penantian, persengketaan, persaudaraan, cinta, dan
nafsu-nafsu bawah sadar yang sangat mendasar dan berserak pada setiap
manusia di seluruh jagat raya.
Sastra tertulis, yang kemudian membuat
bahasa menjadi halangan untuk
mencapai manusia secara serentak, tidak sepenuhnya bisa menghalangi
penjelajahan sastra
Sebagai pengembaraan spiritual manusia sejagat.
Dalam waktu-waktu yang tertentu suara-suara
kemanusiaan itu secara
estafet meloncat dari satu bahasa ke bahasa yang lain, sehingga cepat
atau lambat, seperti air, suara yang mau digemakannya merembes ke
seluruh dunia. Sastra lisan yang kemudian
merupakan kelanjutan kalau tidak bisa dikatakan pasukan khusus, dari
sastra, secara informal menusukkan peluru-peluru kemanusiaan itu,
langsung kepada manusia lain
dengan bahasa ibunya.
Akhirnya, tidak berkelebihan kalau dikatakan bahwa sastra adalah
jembatan ajaib yang menghubungkan manusia dengan manusia tanpa perlu
melalui petugas pabean apalagi harus menunjukkan paspor.
Sastra adalah bentuk pengalaman spiritual yang
diungkapkan dengan kata-kata yang plastis sehingga memiliki daya magis
yang dikemas melalui bentuk-bentuk cerita rekaan atau semi rekaan
sehingga merupakan lukisan-lukisan kehidupan yang merupakan cerminan
dari kehidupan nyata manusia sehari-hari sehingga penikmatnya menjadi
percaya. Sastra adalah cerita tentang manusia
atau cerita tentang apa saja yang memberikan kepada manusia sebuah
pengalaman spiritual untuk merenungi kehidupan masa lalu, masa kini,
dan masa datang untuk mengantarkan manusia kepada kehidupan yang lebih
baik, lebih sempurna, dan lebih membahagiakan manusia bersama-sama.
Sastra dengan demikian adalah sebuah senjata kemanusiaan yang
ditembakkan sebagai upaya untuk memangkas batas-batas yang memisahkan
manusia, tidak untuk mengatakan bahwa manusia yang satu harus sama rata
dengan manusia yang lain, tetapi hanya untuk menyadarkan bahwa manusia
satu dengan yang lain saling terkait dan tidak mungkin hidup tanpa
manusia yang lain.
Sastra juga bisa menjadi prajurit kemiskinan untuk
memperjuangkan nasib manusia yang papa agar bangkit dan menjadi
seimbang dengan mereka yang gemah ripah. Sastra
juga bisa menjadi alat perjuangan bagi manusia-manusia yang tertindas
untuk menendang kekuasaan yang menidurinya dengan semena-mena. Akan tetapi, semua itu hanya bagian dari kemungkinan sastra sebagai alat, di tangan manusia yang menciptakannya.
Malangnya, keadaan yang amat papa itu masih dianggap
sudah lumayan karena sastra masih ditempelkan pada pelajaran bahasa
sebagai aksesoris, seakan dengan mempelajari bahasa Indonesia sudah
dengan sendirinya menguasai sastra Indonesia.
Dengan sastra, dapat dicapai berbagai hal yang tidak tergapai oleh kekerasan senjata.
Pada gilirannnya sastra yang berpotensi memiliki kekuasaan untuk
mengarahkan manusia ke tujuan yang hendak digiringnya dengan pesona
bahasa dan makna-maknanya tanpa keterpaksaan dari yang bersangkutan.
Sastra adalah hasil pikiran yang tidak kurang
pentingnya dari berbagai percobaan fisika di laboratorium, tidak kurang
pentingnya dari ekplorasi pencarian sumber-sumber kekayaan bumi di
lepas pantai, dan tidak kurang pentingnya dari disertasi dan
seminar-seminar ilmiah tentang bermacam pokok masalah secara mendalam.
Ringkasan lain tentang SASTRA SEBAGAI REFLEKSI KEMANUSIAAN