• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>SASTRA DAN INTERAKSI LINTAS BUDAYA

.

SASTRA DAN INTERAKSI LINTAS BUDAYA

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : Melani Budianta
Pada saat yang sama globalisasi yang dimotori oleh
kapitalisme global Amerika Serikat menimbulkan kebutuhan bagi sejumlah

negara-bangsa untuk membentuk kerja sama lintas nasion untuk mencari
alternatif perimbangan yang lain. Pada sisi yang lain, dengan humor yang mengandung
sindiran, cerpen itu menunjukkan bagaimana yang "asing" dipakai sebagai
sarana membalikkan posisi keterpinggiran di tingkat nasional dengan
cara bergabung ke tataran global melalui "bahasa asing."
Dalam novel itu keluarga Ahmad dan Urai yang tergusur
karena pembangunan mesjid besar di daerah pesisir Kampung Ayer,
terpaksa pindah ke Seria, "pekan yang menjadi ramai dengan terbukanya
telaga-telaga minyak."
Ahmad harus menyesuaikan diri hidup berdampingan
dengan jiran Cina yang bau minyak masakannya, diduga berasal dari yang
diharamkan agama, menyengat pernapasannya setiap hari dan bersabar hati
terhadap jiran orang Iban yang kokok ayam-ayamnya selalu
membangunkannya terlalu dini. Setting waktu
tiga puluhan tahun sampai tahun 70-an melatari suka duka keluarga Ahmad
melewati berbagai fase sejarah, berinteraksi dengan orang Inggris di
perusahaan maupun sebagai pimpinan militer, berurusan dengan iparnya
yang terlibat pemberontakan, orang India dan Singapura berideologi kiri
yang menjadi supervisor perusahaan, orang Iban yang menjadi gurunya
berburu, jiran Cina tetangganya, dan pendeta Kristen bangsa Kenyah.
Dalam skala yang lain, proyek-proyek penerbitan
antologi bersama yang dikelola oleh ASEAN dalam bahasa Inggris dan
program-program Majelis Sastra Asia Tenggara dalam bahasa Melayu bisa
dilihat sebagai upaya membayangkan suatu komunitas lintas bangsa yang
lebih besar di tingkat kawasan.
Wacana yang dominan pada waktu itu merepresentasikan
apa dan siapa yang dianggap musuh dengan cap-cap yang dibangun dengan
konotasi yang buruk. Bagi mereka yang lahir dan
dibesarkan di zaman Orde Baru, kata-kata "komunis" "kiri" serta merta
membangkitkan berbagai konotasi yang menakutkan, sama halnya dengan
istilah, "kelompok subversif", "GPK".
Tapol atau mereka yang dicap "antek komunis" itu
tampil sebagai orang yang mencintai negaranya, yang menekuni
profesinya, dan sebagai pribadi yang bisa menyayangi, membenci, punya
cita-cita, rasa sakit, lapar, dan kesepian.
Dalam novel Larung karya Ayu Utami, di balik stereotip-stereotip
"Gerwani", "PKI", "Penimbun beras" ditunjukkan orang-orang kecil yang
tak tahu apa-apa, seperti ayah tokoh Larung, seorang tentara yang
mengatasi gaji kecilnya dengan menjual sisa beras jatah bersama
sobatnya pedagang kelontong orang Cina.
Simak puisi yang membangkitkan empati dan solidaritas,
yang ditulis oleh sastrawan negara Usman Awang empat dekade silam,
tujuh tahun sebelum kerusuhan Mei 1969:
Anak Jiran Tionghua Begitu kecil ia berdiri di tepi pagar kilat matanya
memanggil Iskandar siapa lalu siapa berkaca melihat keduanya bergurau
senda
Anak Tionghua kelahirannya di sini di bumi hijau lading-ladang getah
dan padi ia bisa bercerita untuk siapa saja di sini tanahnya dan ibunya
bersemadi
Lihat mereka sedang berebutan pistol mainan he, jangan berkelahi ah,
anak-anak dengan caranya murni berkelahi untuk nanti bermain kembali
Lihat mereka tertawa riang Ah Chew tak punya gigi sebatang Iskandar
mengesat hingus ke baju sekarang mereka menuggu aiskrim lalu
Bumi tercinta resapkan wahyumu jantung mereka adalah langitmu darah
mereka adalah sungaimu nafas mereka adalah udaramu (1962)
Seperti yang terlihat pada puisi Usman Awang di atas, sastra sebagai
seni dengan medium kata mempunyai peluang kuat untuk membukakan
wawasan, terutama untuk memahami dunia dari perspektif yang lain.
Dinamika yang pesat dalam hubungan
lokal-nasional-regional-dan global dalam era globalisasi menuntut semua
pihak yang berkepentingan dalam kesusasteraan untuk senantiasa mengkaji
ulang kebijakan budaya yang selama ini dianutnya.
Perkembangan lintas budaya di abad ke-21 menuntut ruang gerak yang luas
untuk menghargai keragaman sambil tetap meneguhkan kebersamaan untuk
hidup di dunia yang semakin sempit dan semakin ramai.
Diterbitkan di: Oktober 11, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.