Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > MASA DEPAN BAHASA,SASTRA, DAN AKSARA DAERAH

.

MASA DEPAN BAHASA,SASTRA, DAN AKSARA DAERAH

Summary rating: 2 stars 7 Tinjauan
Pengarang : Abdul Wahab
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan: 865
kata: 900
Diterbitkan di: Oktober 11, 2007
Oleh karena penelitian semacam itu makan waktu yang
lama dengan biaya yang sangat tinggi, apa yang saya bentangkan di sini
adalah hasil kajian kepustakaan, terutama hasil kongres bahasa daerah
(bahasa Bali dan bahasa Jawa), dan hasil wawancara saya dengan
mahasiswa program S2 dan S3 yang penutur asli bahasa Bali, Jawa, Bugis,
Makasar, Bima, Lampung, dan Batak (yaitu bahasa-bahasa daerah yang
mempunyai sistem tulisan sendiri.)

Sebenarnya, kondisi bahasa, sastra, dan aksara daerah saat ini sudah
berkali-kali dibentangkan, disedihkan, ditangiskan, dan dijeritkan oleh
para pemeduli bahasa daerah dalam kongres-kongres bahasa daerah antara
lain Kongres Bahasa Bali, mulai kongres yang pertama sampai kongres
yang kelima dan Kongres Bahasa Jawa dari kongres pertama sampai dengan
kongres yang ketiga.

Seandainya bahasa-bahasa Nusantara lainnya dengan jumlah penutur yang
besar, seperti bahasa Dayak, bahasa Batak, bahasa Bugis, dan
lain-lainnya, juga mengadakan kongres bahasa daerah semacam Kongres
Bahasa Bali dan Kongres Bahasa Jawa, potret yang akan disajikan tentang
kondisinya akan senada, yaitu potret yang suram.
Orang Bali menyadari bahwa bahasa Bali mempunyai
fungsi yang sangat penting antara lain (1) sebagai lambang kebanggaan
daerah dan masyarakat Bali, (2) sebagai lambang identitas daerah dan
masyarakat Bali, (3) sebagai alat penghubung di dalam keluarga dan
masyarakat Bali, (4) sebagai pendukung sastra daerah Bali dan sastra
Indonesia, dan (5) sebagai sarana pendukung budaya daerah dan budaya
nasional Indonesia.
Pengalaman hidup orang Bali dengan segala macam
aspeknya itu unik dan memikat budaya lain, sehingga ada sebagian cerita
Bali yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain ke dalam
bahasa Inggris, seperti “Mati Salah Pati” oleh Gde Aryantha Soethama
yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh dua orang penutur asli
bahasa Inggris; penerjemah yang pertama ialah
Vern Cork dengan pengalihan judul menjadi “Death by Misfortune” dan
penerjemah kedua ialah Jennifer Lindsay dengan perubahan judul menjadi
“The Wrong Kind of Death.” Cerita pendek “Luh Galuh” oleh Putu Oka
Sukanta juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh dua orang
penutur asli bahasa Inggris, yaitu Vern Cork dan oleh Mary Zurbuchen
tanpa adanya perubahan judul, karena cerita pendek itu memaparkan
pengalaman hidup gadis Bali yang bernama Luh Galuh.

Satu lagi cerita pendek yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh
penutur asli bahasa ini ialah “Mega Hitam di atas Pulau Kahyangan” yang
ditulis oleh Putu Oka Sukanta oleh Vern Cork dengan perubahan judul
dalam bahasa Inggris “Storm Clouds over the Island of Paradise.”
Melihat sikap orang asing yang sangat positif terhadap sastra Bali,
sehingga karya sastra Bali diterjemahkan kedalam bahasanya, dengan
tujuan supaya pengalaman hidup orang Bali yang sangat unik itu
melengkapi aspek kehidupan yang tak mereka dapatkan dalam budayanya,
saya berpendapat bahwa sastra Bali itu memiliki nilai humanisme
universal.
Menurut Herusatoto, ada tiga sebab yang menjadikan
rancu pikir itu: (a) dalam mengartikan dan memahami makna kata
unggah-ungguh dan tata karma, kebanyakan penutur asli bahasa Jawa
menggunakan ‘nalar dan rasa bahasa Indonesia’ kebahasaan dari perspektif bahasa dan budaya Jawa), (b) buku pegangan
pokok atau kamus yang dijadikan sebagai sumber untuk memahami arti
kedua istilah itu adalah kamus dalam bahasa Indonesia, dapat menyentuh rasa dalam perspektif bahasa dan budaya Jawa>, dan (c)
penulis dan peneliti yang non-Jawa tidak mau melihat dari pandangan
perspektif budaya dan bahasa Jawa, melainkan memandangnya dari
perspektif budaya dan bahasanya sendiri.
Pengarang novel atau serita pendek yang berasal dari
Batak, Bali, Lampung, Makasar, Bugis, Jawa dan lain-lainnya yang ada di
Nusantara ini tak dapat lepas dari penggunaan bahasa daerah
masing-masing, karena dengan menggunakan ungkapan bahasa daerah itu
pengarang tetap dapat menyampaikan maksud yang dikehendaki tanpa
mengorbankan aspek keindahannya.
Bahasa-bahasa daerah yang ada di Nusantara ini tidak lebih rendah dari
bahasa-bahasa yang ada di dunia termasuk bahasa-bahasa yang ada di
Asia, seperti bahasa Arab, bahasa Thai, bahasa Tamil, bahasa Mandarin,
bahasa Jepang, bahasa Korea dan lain-lainnya.
Oleh karena pembinaan dan pengembangan budaya, bahasa,
sastra, dan aksara daerah itu diserahkan kepada Pemerintah Daerah
dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, Pemerintah daerah
bertanggung-jawab melaksanakan undang-undang itu dengan segala
konsekuensinya, sedangkan pemerintah pusat mengatur perekatan budaya,
bahasa, sastra, dan aksara daerah menjadi budaya nasional Indonesia.-
Bacaan:
Bandana, I Gde Wayan Soken.
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.