Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > TAKWIL SEBAGAI ASAS TEORI SASTRA DAN BENTUK HERMENEUTIKA ISLAM

.

TAKWIL SEBAGAI ASAS TEORI SASTRA DAN BENTUK HERMENEUTIKA ISLAM

Summary rating: 2 stars 2 Tinjauan
Pengarang : Abdul Hadi W. M.
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 368  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 10, 2007
Gagasan dan usaha untuk menggali, meneliti, dan
mengembangkan teori sastra yang pernah dan sedang tumbuh dalam tradisi
intelektual Islam, patut disambut dengan gembira sebab sangat tepat
pada waktunya. Teori-teori dan kaidah-kaidah yang digunakan itu
ternyata banyak yang tidak bersesuaian dengan asas falsafah dan wawasan
estetika yang melatari penciptaan karya-karya yang dikaji sehingga
berbagai kejanggalan dalam penilaian dan pemahamannya sering pula
terjadi.Padahal sejak tiga dasawarsa yang lalu telah banyak
muncul karya penulis muslim yang bukan saja signifikan serta mendapat
penerimaan luas di kalangan pembaca tua dan muda, melainkan juga tidak
sedikit yang benar-benar didasarkan wawasan estetik dan pandangan dunia
(worrldview) yang berkembang dalam tradisi intelektual Islam.Kalau kita membaca secara mendalam buku Iqbal yang
terkenal Membangun Kembali Pemikiran Agama dalam Islam, dan juga buku
karangan Ali Syariati yang berjudul Haji; akan
tampak bagaimana kaidah takwil atau hermeneutika diterapkan dalam
penulisan wacana intelektual yang tidak hanya bercorak spiritual,
tetapi juga bercorak falsafah dan memiliki konteks kesejarahan yang
jelas. Jawabnya karena konteks sejarah dan sosiologis yang
ikut melatari penulisan teks atau karya sastra, sebagaimana pesan moral
dan kerohanian teks, sering hanya disajikan secara tersirat atau
implisit dan tidak secara tersurat atau eksplisit, atau diisyaratkan; sehingga tersembunyi di bawah permukaan ungkapan. Kita hanya dapat menafsirkan dengan menggunakan kaidah
takwil, artinya kaidah yang memungkinkan kita mencari makna batin atau
esoteris yang disembunyikan dalam paradoks tersebut.
Karena dalam pandangan seorang muslim sesuatu yang batin itu mendahului
sesuatu yang zahir, maka duduk yang dimaksud dalam baris itu ialah
batinnya yang duduk, yang tidak lain adalah keimanannya yang teguh
kepada Tuhan, sedangkan berjalan merujuk pada aktvitas sosialnya. Sudah tentu yang dimaksudkan bukan rupa-Nya yang
zahir yang dapat dilihat dengan mata, tetapi rupa batinnya yang hanya
dapat dirasakan oleh mata hati, yaitu rasa keimanan yang dalam (Abdul
Hadi 1995: 24-6).
Abdul Razaq al-Kasyani, seorang sufi abad ke-13 M, menghubungkan
tradisi takwil dengan sabda Nabi yang populer dan bermaksud, "Tidak ada
ayat Alquran yang tidak mempunyai makna zahir dan sekaligus makna
batin, batasan (hadd) dan sekaligus tempat ke mana kita melakukan
pendakian" (Murata 1992:301), sedangkan mengenai keberhasilan
penerapannya al-Kasyani mengatakan bahwa dalam takwil seseorang tidak
cukup hanya menggunakan logika dan pikiran.
Seorang penakwil harus juga menggunakan intuisi dan imaginasi
kreatifnya, melibatkan diri ke dalam keseluruhan pergerakan teks,
menyatu dengan teks dan membayangkan dirinyalah yang menerima ilham
untuk menyampaikan kandungan teks yang sedang dia baca.

Sebagaimana imaginasi kreatif, dunia yang ditempati
makna terdalam teks adalah alam yang lebih tinggi dari alam perasaan
dan fikiran biasa.
Dalam proses pemahaman karya, tahap awal yang biasanya dilakukan adalah
menandai apa yang mesti ditandai atau menentukan dilal (tanda) yang
signifikan, termasuk bagian-bagian teks yang simbolik atau metaforikal.Hal ini tidak mengherankan karena karya sastra bukan
mengandung unsur simbolik dan metaforik yang sering menguasai
keberadaan sebuah karya sebagai objek estetik, tetapi juga dan bahkan
sering karya sastra dapat dianggap sebagai metafora atau simbol
terhadap sesuatu hal yang tidak diungkapkan secara tersurat oleh
penulis. Roh imaginasi ialah fakulti jiwa yang tugasnya
merekam keterangan yang dikirim oleh indera, kemudian menyimpannya dan
menyampaikannya pada roh yang di atasnya, yaitu roh akal atau
inteligensia. Apabila imaginasi yang pekat
dapat dijernihkan, dihaluskan dan dirapikan, maka ia akan dapat
digunakan untuk mencapai batas makna-makna yang dapat dicerap oleh
inteligensia atau akal budi.

Ringkasan lain tentang TAKWIL SEBAGAI ASAS TEORI SASTRA DAN BENTUK HERMENEUTIKA ISLAM
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------