Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Stigmatisasi Sastra Indonesia

.

Stigmatisasi Sastra Indonesia

Summary rating: 4 stars 2 Tinjauan
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 102  kata: 300   Diterbitkan di: Oktober 10, 2007
Jika stigmatisasi sastra Indonesia memang bertujuan
seperti yang terpapar di atas,hal itu layak dihargai.Misalnya,jika
sastra Indonesia sudah diberi stigma sebagai “sastra Islami”,kemudian
kaum muslim ramai-ramai mengapresiasi dan juga ramai-ramai memproduksi
karya sastra sehingga pada akhirnya tidak ada lagi fenomena
keterasingan sastra di tengah masyarakat kita sebagaimana yang selama
ini berlangsung.
Kasus larisnya novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman mungkin bisa
dikatakan sebagai hasil stigmatisasi sastra Indonesia sebagai “sastra
Islami”, jika merujuk mayoritas pembacanya yang terdiri atas kalangan
berjilbab.Kasus ini bisa menjadi fenomena yang cukup mendukung upaya
mengembangkan apresiasi sastra Indonesia manakala didukung
mutu.Artinya,sebuah novel bercitra sebagai “sastra Islami”bisa laris
bukan semata-mata berkat promosi gencar dan dukungan apresiasi yang
bersifat fanatisme maupun sentimentalisme religius kelompok tertentu
yang kebetulan mayoritas di Indonesia.Data empiris banyak membuktikan bahwa stigmatisasi sastra Indonesia
(baca: sastra berbahasa Indonesia) tidak banyak mendukung perkembangan
apresiasi dan produktivitas sastra Indonesia manakala hanya bertujuan
untuk menimbulkan fanatisme dan sentimentalisme yang berkaitan dengan
agama, ideologi,dan ras tertentu.
Misalnya, sebelum dan selama Orde Baru, betapa sastra Indonesia
mengalami stigmatisasi menjadi “sastra kiri”dan “sastra kanan” yang
ternyata justru menyeret sastra menjadi bagian dari propaganda politik
yang ujung-ujungnya merugikan sastra itu sendiri.Berkaitan dengan stigmatisasi sastra Indonesia menjadi
sastra-sastra tertentu yang ujung-ujungnya bisa merugikan perkembangan
apresiasi terhadap sastra, sebenarnya ada masalah besar yang lebih
layak diurus agar tidak menjadi kendala abadi bagi upaya penghapusan
citra keterasingan sastra kita di tengah masyarakat kita sendiri,yakni
masalah keadilan dan proporsionalitas publikasi atau sosialisasi sastra.Misalnya, rubrik sastra yang terbuka di koran-koran
atau majalah sastra seperti Horison jangan sampai menjadi media yang
cenderung berbau sektarian, apalagi kolusi dan nepotisme.Jangan biarkan
rubrik sastra yang makin sempit atau majalah Horison yang nasibnya
mirip bonsai, tidak lagi mengutamakan kualitas karya sastra, melainkan
mengutamakan sastrawansastrawan tertentu saja.

Ringkasan lain tentang Stigmatisasi Sastra Indonesia
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------