Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Sastra Indonesia dan Politik Sastra

.

Sastra Indonesia dan Politik Sastra

Summary rating: 3 stars 2 Tinjauan
Pengarang : Kuswinarto
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan: 433
kata: 600
Diterbitkan di: Oktober 10, 2007
Oleh salah seorang rekan yang mengikuti Kongres
Bahasa Indonesia VIII di Jakarta, 14-17 Oktober 2003 lalu, saya diberi
oleh-oleh sebuah buku setipis 25 halaman berjudul Politik Bahasa
(Jakarta, 2003). Di samping itu, sebagaimana dikemukakan Dendy
Sugono—kepala Pusat Bahasa—dalam pengantar buku ini, penerbitan kembali
buku Politik Bahasa ini merupakan penyediaan buku bahan rujukan dalam
upaya pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra di Indonesia. Sebagai kebijakan, rumusan-rumusan dalam buku ini
cukup jelas dan terarah sehingga memudahkan pengelolaan masalah-masalah
bahasa dan sastra di Indonesia, terutama upaya-upaya pembinaan dan
pengembangannya, tak terkecuali upaya-upaya pembinaan dan pengembangan
sastra.Sastra daerah adalah sastra berbahasa daerah dan
merupakan unsur kebudayaan daerah yang merupakan bagian dari kebudayaan
nasional, sedangkan sastra asing dalam buku ini didefinisikan sastra
asing adalah sastra berbahasa asing dan merupakan bagian dari
kebudayaan asing.Sastra asing mempunyai fungsi sebagai (1) pendorong
penciptaan karya sastra di Indonesia, (2) sarana untuk lebih memahami
sebagian sastra di Indonesia, (3) bahan kajian sastra bandingan, dan
(4) menambahan wawasan mengenai kebudayaan asing. Dengan batasan sastra Indonesia, sastra daerah, dan
sastra asing seperti yang dikutip di atas, kita jadi perlu memikirkan
di mana tempatnya dua drama karya Sanusi Pane yang berjudul Air Langga
(1928) dan Eenzame Garoedavlucht (1930). Dan lagi, seandainya Air Langga (1928) dan Eenzame
Garoedavlucht (1930) tidak dicatat sebagai karya sastra Indonesia
karena berada di luar definisi sastra Indonesia, Sanusi Pane masih
sastrawan Indonesia karena ia menghasilkan banyak karya berbahasa
Indonesia, seperti Puspa Mega (kumpulan sajak, 1927), Madah Kelana
(kumpulan sajak, 1931), Kertajaya (drama, 1932), Sandyakala ning
Majapahit (drama, 1933), dan Manusia Baru (drama, 1940).Dan jika sepakat karya berbahasa asing di masa lalu
boleh juga disebut sastra Indonesia, sebagai bentuk penghargaan, perlu
digalakkan pelacakannya ke dalam rimba sejarah sastra Indonesia via
penelitian untuk ditemukan dan dilestarikan.
Ini sejalan dengan arahan bahwa penelitian sastra Indonesia dilakukan
untuk memperoleh pengetahuan yang luas tentang sastra Indonesia,
termasuk sejarah sastra (sastrawan, tokoh sastra, aliran dalam sastra,
dan sebagainya), serta peran sastra dalam kaitannya dengan upaya
pengembangan bahasa Indonesia (Politik Bahasa, h.19).
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.