JAKARTA-Oki Toshio,
seorang novelis diburu karena
mengangkat tokoh Otoko, perempuan masa lalunya yang kemudian menjadi
pelukis perempuan terkenal. Tapi, di luar tematik, jangan lupa bahwa novel punya
"darah" berupa bahasa, metafora, gaya yang khas, yang juga menarik buat
pembicaraan.
Ada novel yang memperlihatkan kekhasan bahwa narator tak punya opini
dan detail dibiarkan
dalam peristiwa – baik peristiwa tokoh
atau peristiwa alam–kisah aktivis muda bersama ibunya dalam "Bunda" Maxim
Gorki, seorang tahanan politik yang pulang namun tak diterima keluarga
bahkan kekasihnya di novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer, atau
metafora bahasa dalam paragraf yang sangat panjang
pada One Hundred
Years of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez.Ada kisah tentang seorang demonstran di masa reformasi
yang bertemu ayahnya mantan tentara di masa PKI yang menjadi gembel
dalam "Tapol" Ngarto Februana. Atau, cerita
seorang jurnalis internet di tengah pergolakan pra-Mei 1998 pada
Anonim, My Hero karya Sunardian, seorang pemuda Hurlang yang berjuang
dengan ibunya bernama Molek atas polusi air di Danau Toba pada
Jamangilak Tak Pernah Menangis Martin Aleida.
Arleta melakukan pencarian spiritual lewat filosofi waktu pada novel
Memburu Kalacakra Ani Sekarningsih, tokoh wayang Boma Narakasura yang
muncul di masa modern pada novel Yanusa Nugroho atau Margio yang sadis
di tengah keluarga kisah keluarganya yang juga tragis pada Lelaki
Harimau Eka Kurniawan.
Persoalan yang terbeber di atas
ini masih mengarah pada kisah yang
lebih mendetail pada persoalan karakter, penokohan atau konflik yang
terbangun, dengan latar sosio-kultural yang berbeda satu sama lain.
Ini juga bukan rekomendasi untuk sebuah kemenangan atas karya
sastra yang satu atas karya sastra yang lain.
Bila sempat pusing dengan banyaknya karya yang ada, buku yang tersedia,
tetap saja itu bukan jadi alasan untuk tak membaca banyak lagi karya
yang bermunculan saat ini. Barangkali kita tak hanya memerlukan pembaca yang
arif, ulet, tekun melihat karya sastra yang serupa gulungan bola salju
ini, tapi juga pembaca yang berani bicara, berkomentar, berapresiasi
dengan perbedaan spesialisasi ilmu yang dimilikinya.
Ringkasan lain tentang Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia!